KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pedagang Pasar Inpres Kebun Sayur berharap penyelenggaraan event berskala nasional lebih sering digelar di Balikpapan. Sebab kedatangan tamu luar daerah masih menjadi penopang utama penjualan mereka.
Pasar yang dikenal sebagai sentra oleh-oleh khas Balikpapan ini dihuni lebih dari 300 pedagang. Wajar jika pembelinya sebagian besar justru berasal dari luar kota.
“Kalau ada acara seperti Dekranas kemarin, pasar jadi ramai. Tapi kalau enggak ada, ya sepi. Orang lokal jarang belanja kecuali mau pulang kampung,” kata Ahmad salah seorang pedagang batu akik.
Ia mengaku penjualan menurun sejak beberapa minggu terakhir karena berkurangnya kunjungan wisatawan setelah adanya situasi sosial yang kurang kondusif.
Ketua Pedagang Pasar Inpres Muhammad Amin menambahkan, aktivitas jual-beli sebenarnya masih berjalan lancar, meski jumlah pengunjung tidak stabil seperti dulu.
“Penjualan seperti biasanya, bagus saja. Dagang jalan dengan lancar, toko-toko tetap buka. Enggak ada penurunan yang signifikan,” ungkapnya.
Amin menilai keramaian pasar kini lebih bergantung pada momentum kegiatan besar yang digelar di Balikpapan. “Kalau dulu akhir pekan selalu ramai. Sekarang jumlah pengunjung bisa padat di Jumat, Sabtu, atau Minggu saja, tergantung ada acara atau kunjungan,” jelasnya.
Pasar Inpres Kebun Sayur selama ini memang dikenal sebagai destinasi wajib bagi tamu dari luar daerah, terutama yang ingin membawa pulang oleh-oleh khas Kalimantan Timur.
Mulai dari kerajinan manik-manik, aksesoris, hingga perhiasan batu akik tersedia di sana. Namun, tanpa adanya event besar, denyut pasar terasa lebih lesu.
Kondisi ini menegaskan pentingnya agenda kunjungan resmi, promosi wisata, dan stabilitas sosial bagi keberlanjutan Pasar Inpres.
"Kalau kami sih pedagang berharap pemerintah maupun pihak terkait bisa mendorong lebih banyak event lokal agar masyarakat Balikpapan juga tergerak berbelanja, sehingga pasar tidak hanya bergantung pada pengunjung dari luar daerah," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo