KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Pergeseran peta produksi buah-buahan dan sayuran tahunan (BST) terjadi di Kalimantan Timur. Setelah sempat didominasi pisang, pepaya, dan nanas, kini posisi pepaya tergeser oleh nangka atau cempedak.
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana mengungkapkan bahwa sejak 2022, tiga komoditas utama BST Kaltim adalah pisang, pepaya, dan nanas. Namun, pada 2023 menjadi momentum lonjakan produktivitas yang cukup tajam.
“Komoditas buah-buahan dan sayuran tahunan (BST) di Kalimantan Timur sejak tahun 2022 masih didominasi oleh pisang, pepaya, dan nanas. Namun, pada tahun 2023 terjadi lonjakan produktivitas pada ketiga komoditas tersebut, dengan peningkatan antara 18,02 persen hingga 93,52 persen,” jelas Yusniar.
Dia menambahkan, pisang dan pepaya bahkan mencatat pertumbuhan paling signifikan. “Secara khusus, nilai produksi pisang dan pepaya mengalami pertumbuhan signifikan, masing-masing naik sebesar 22,40 persen hingga 115,31 persen. Dari sisi jumlah tanaman menghasilkan, juga terjadi peningkatan yang cukup stabil, yakni antara 2,45 persen hingga 11,26 persen,” katanya.
Tren itu berlanjut di 2024 dengan pola berbeda. Jika sebelumnya pepaya masih masuk jajaran komoditas utama, kini posisinya digantikan oleh nangka atau cempedak.
“Memasuki tahun 2024, terjadi perubahan struktur produksi komoditas BST di Kalimantan Timur. Jika sebelumnya didominasi oleh pisang, pepaya, dan nanas, kini komoditas unggulan bergeser menjadi pisang, nanas, dan nangka atau cempedak,” tegas Yusniar.
Pergeseran itu, lanjutnya, menunjukkan dinamika positif sektor hortikultura di Bumi Etam. “Ketiga komoditas ini menonjol tidak hanya dari segi produktivitas, tetapi juga dari nilai produksi, menjadikannya pilar penting dalam pengembangan sektor hortikultura di Kalimantan Timur,” tutur Yusniar.
Dengan kinerja yang terus meningkat, dia optimistis BST dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, terutama di sentra-sentra pertanian.
Pisang yang masih mendominasi dengan produksi terbesar, ditopang nanas dan nangka atau cempedak yang mulai merangkak naik, diperkirakan akan semakin mengokohkan sektor hortikultura sebagai penyangga pangan sekaligus sumber pendapatan petani Kaltim. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo