KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja impor migas dan nonmigas Kalimantan Timur (Kaltim) dalam lima tahun terakhir bergerak fluktuatif, tapi cenderung meningkat. Dominasi sektor migas masih menjadi penopang utama, meski sempat terkoreksi pada 2024.
Terungkap bahwa puncak impor migas terjadi pada 2023. “Impor migas mencapai puncaknya pada tahun 2023 dengan nilai USD4.078,99 juta. Di sisi lain, impor nonmigas tertinggi tercatat pada tahun 2022, yakni sebesar USD1.747,08 juta,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Yusniar Juliana.
Namun, titik terendah justru terjadi di masa pandemi. “Nilai impor terendah untuk kedua sektor terjadi pada 2020, masing-masing USD874,47 juta untuk migas dan USD1.085,85 juta untuk nonmigas,” bebernya, Rabu (24/9).
Adapun pada 2024, tren total nilai impor Kaltim menurun akibat koreksi di sektor migas. “Nilai impor migas 2024 tercatat USD3.502,26 juta, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, impor nonmigas meningkat tipis dari USD1.491,82 juta pada 2023 menjadi USD1.495,98 juta pada 2024,” urai Yusniar.
Selama lima tahun terakhir, struktur impor Kaltim masih condong ke migas. Kecuali pada 2020, kontribusi sektor migas terhadap total impor berkisar antara 44,61 persen hingga 73,22 persen, sedangkan sektor nonmigas antara 26,78 persen hingga 55,39 persen. Pada 2024, kontribusi sektor migas mencapai 70,07 persen, sedangkan sektor nonmigas 29,93 persen.
Lebih rinci, fluktuasi juga terlihat secara bulanan sepanjang 2024. “Nilai impor migas tertinggi tercatat pada bulan Oktober, yaitu USD570,12 juta, mengalami peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan tersebut disebabkan karena kenaikan volume dan harga minyak mentah sebagai dampak dari eskalasi konflik Timur Tengah. Sebaliknya, impor migas terendah tercatat pada bulan Maret dengan nilai sebesar USD179,68 juta,” papar Yusniar.
Pola serupa terjadi pada sektor nonmigas. Nilai tertinggi juga tercatat pada Oktober senilai USD187,96 juta, sementara titik terendah ada di Maret sebesar USD78,08 juta. (*)
Editor : Ismet Rifani