KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika halaman rumah pilah dan penimbangan Bank Sampah Induk Kota Hijau di Jalan Daksa Timur Raya kawasan Sepinggan, Balikpapan Selatan, mulai ramai pada Minggu ketiga di September itu. Udara masih lembap sisa hujan yang mengguyur, tapi aktivitas di halaman kecil itu sudah seperti pasar kecil yang hidup.
Beberapa mobil dan sepeda motor datang silih berganti. Di sisi kanan, karung-karung besar berisi botol plastik tersandar rapi. Ada tujuh perempuan mengenakan kaus berwarna senada yang merupakan pengurus Bank Sampah Induk Kota Hijau Balikpapan tengah sibuk di sana.
Seorang pria mengenakan kaus dan celana panjang turun dari kendaraan pribadi membuka bagasi mobilnya. Dialah Yanto, 51 tahun, karyawan swasta yang sudah empat tahun lebih, rutin menabung di bank sampah ini. Ia dikenal sebagai salah satu nasabah paling konsisten. “Pagi, Pak Yanto! Wah, banyak setoran lagi minggu ini,” sapa Rini, salah seorang pengurus.
“Lumayan, Bu. Dua minggu nggak setor, jadi numpuk di garasi,” balas Yanto, tertawa kecil. Dari bagasi mobilnya, Yanto menurunkan tiga karung besar. Satu berisi botol plastik bekas air mineral, satu kardus bekas kemasan sabun dan mi instan, satu lagi berisikan kardus dan kertas lainnya. Semua sudah dipilah dengan rapi dari rumahnya.
Ritual Kecil di Hari Minggu
Bagi sebagian orang, Minggu adalah hari beristirahat. Tapi bagi Yanto, hari itu punya makna lain. Ia menyebut kegiatan menyetor sampahnya ke bank sampah sebagai “ritual kecil untuk masa depan”.
“Awalnya saya pikir buat apa sih mesti memilah sampah sampai salah seorang pengurus Bank Sanpah Induk Kota Hijau ini memberikan sosialisasi dan mengenalkan program menabung sampah jadi emas oleh PT Pegadaian, itu membuat saya tertarik,” katanya sambil tertawa.
PT Pegadaian hadir sebagai mitra Bank Sampah Induk Kota Hijau Balikpapan dan di tahun 2019 digalakan Tabungan Emas dari sampah.
“Tapi lama-lama kami sadar pula, ternyata memilah sampah itu bisa punya nilai ekonomi dan juga nilai moral. Saya bisa ajarkan anak-anak tanggung jawab dari hal kecil,” ungkapnya. Kini keluarganya terbiasa memilah sampah setiap hari. Anak-anaknya bahkan dengan bangga membawa pulang botol minuman bekas dari sekolah. “Ini buat tabungan emas, ya, abi,” tutur Yanto mengulangi perkataan anaknya.
Suasana mulai reda menjelang siang. Sebagian nasabah sudah pulang setelah menimbang setoran mereka. Yanto masih duduk di kursi kayu, menatap layar ponselnya. Di aplikasi Pegadaian Digital, saldo tabungan emasnya telah tertera angka 9 gram. Bagi Yanto, program ini bukan sekadar tentang uang.
“Kalau sudah 10 gram baru mau saya cetak. Saya bisa beli emas kapan saja kalau mau. Tapi emas dari sampah ini punya cerita. Ini emas yang saya kumpulkan dari botol kosong, kardus dari minyak bekas, dari waktu yang saya sisihkan setiap minggu pagi. Ada makna di situ," tuturnya sambil tersenyum.
Di bawah kanopi tempat penimbangan, suasana masih terasa akrab dan hangat. Para nasabah dan pengurus saling bantu mengangkat kardus, para ibu menuang minyak jelantah ke jeriken dan di sudut lain, seorang petugas mencatat hasil setoran.
“Itu dari jamaah kami,” ucap Khomarudin, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Jami Luqmanul Hakim Graha Balikpapan sembari membantu mengangkat tumpukan kardus ke atas mesin penimbang.
Bagi Khomarudin, kegiatan ini bukan hanya soal kebersihan. “Menjaga bumi juga bagian dari ibadah. Kalau kita bisa dapat pahala sekaligus manfaat ekonomi, kenapa tidak?” ujarnya penuh semangat.
Ubah Sampah Bernilai Ekonomis
Bank Sampah Induk Kota Hijau Balikpapan memang bukan sekadar tempat menimbang sampah. Ia telah menjelma menjadi ruang perjumpaan sosial dan simbol perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Didirikan sejak 2012, Bank Sampah Induk kini membina lebih dari 2.500 nasabah dari Balikpapan hingga Samboja. Sekitar 600 di antaranya memiliki tabungan emas aktif, hasil kerja sama dengan PT Pegadaian.
“Yang paling penting bagi kami bukan hanya jumlah sampah yang terkumpul, tapi kesadaran yang tumbuh. Kami ingin orang-orang melihat bahwa sampah bisa punya nilai ekonomi, sosial, bahkan spiritual," sebut Direktur Utama Bank Sampah Induk Kota Hijau Abdul Rahman.
Rahman mengamati pemandangan di sekelilingnya dengan mata teduh. “Dulu orang malu datang ke bank sampah. Sekarang, malah jadi ajang kumpul,” tambahnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Bank Sampah Induk Kota Hijau Balikpapan, mereka telah mengelola lebih dari 190 ton sampah. Jenis paling banyak adalah kertas sebanyak 146.743 kg, disusul plastik 11.672 kg, botol plastik 7.597 kg, minyak goreng bekas/jelantah 4.897 kg, besi 3.081 kg, dan plastik cetakan 3.124 kg.
“Bayangkan, 190 ton sampah yang seharusnya menumpuk di TPA kini bisa bernilai ekonomi bagi masyarakat,, bahkan menjadi emas” ujarnya bangga.
Bank Sampah Induk Kota Hijau memang dikenal sebagai pionir dalam pengelolaan bank sampah berbasis komunitas. Selain menerima sampah anorganik bernilai jual, mereka juga mengolah sampah organik menjadi kompos, ekoenzim, dan pupuk cair, bahkan membuat sabun organik dari bahan fermentasi alami.
Awal mula Meng-Emaskan Sampah hadir pada 2019 lalu, saat itu pengurus mengajak warga di sekitar lokasi untuk menukarkan minyak jelantah miliknya. Namun, seiring berjalannya waktu, inovasi terus dikembangkan dan tak hanya jelantah, semua sampah yang telah dipilah kini dapat dikonversi menjadi emas.
Pengurus Bank Sampah selalu mengedukasi warga untuk memilah sampah dan menyesuaikan kategorinya. Jika sampah sudah dipilah dan disesuaikan dengan kategori, atau disebut dengan sampah bersih, maka harga sampah tersebut akan menjadi lebih mahal.
Ia menyebut, untuk jenis botol bersih biru dihargai Rp 2.000 per kg, sedangkan untuk botol kotor (masih berlabel dan bertutup) harganya Rp 1.000 per kg, untuk minyak jelantah Rp 3.000 per liter, untuk kaleng rencek (minuman kaleng) berkisar Rp 8.000 per kg.
Rahman berkata, ketika seseorang mulai memilah sampah di rumah, itu artinya mereka sudah mengambil tanggung jawab terhadap bumi. “Itu bukan hal kecil," tegasnya.
Harga tiap sampah berbeda bergantung dengan jenis dan kondisi sampah yang dibawa. Pengurus terus menyosialisasikan program ini agar warga dapat memiliki tabungan emas dari sampah-sampah yang dihasilkan sehari-hari, serta turut menjaga kelestarian lingkungan.
"Selain membantu pengurusan tabungan emas, Pegadaian telah memberikan beberapa bantuan mulai dari motor, mobil pickup untuk mengangkut sampah, televisi, tablet, printer dan lain-lain untuk membantu program bank sampah tersebut," sebutnya.
Berkah lain, anak para pengurus Bank Sampah Induk Kota Hijau juga diberikan beasiswa berupa tabungan emas oleh Pegadaian.
Apresiasi disampaikan Rina Juliati, yang menjabat Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kaltim ketika bertemu beberapa waktu lalu. Ia menyebut gerakan seperti ini sebagai model ideal pembangunan lingkungan berbasis komunitas. “Model yang dikembangkan Bank Sampah Induk Kota Hijau dan PT Pegadaian ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular,” timpal Rina.
“Ada nilai finansial, sosial dan ekologis yang berjalan beriringan. Dari rumah, dari masjid, komunitas dan Pegadaiam semua punya peran,” lanjutnya.
1 Kg Emas dari Sampah
Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepsi) lahir dari kebutuhan untuk saling menguatkan antar pengelola bank sampah. Dalam kunjungannya ke Kota Minyak beberapa waktu lalu, Wakil Ketua Forsepsi Syaifudin Zuhri, berbagi cerita kepada awak media Kaltim Post. Ia berujar, Forsepsi kini memiliki lebih dari 125 anggota dari Sabang sampai Merauke.
“Di Surabaya saja, bank sampah binaan Pegadaian sudah berhasil menghimpun total 1 kg emas dari hasil penjualan sampah. Kami percaya, daerah lain bisa menyusul, asal terus semangat dan adaptif dengan teknologi," ungkap Syaifudin.
Pegadaian Meng-EMASkan Indonesia
Di balik keberhasilan Bank Sampah Induk Kota Hijau, ada dukungan besar dari PT Pegadaian Kanwil IV Balikpapan. Melalui “Meng-Emaskan Sampah”, Pegadaian juga menghubungkan kegiatan daur ulang masyarakat dengan sistem tabungan emas konvensional maupun digital.
Ramdiyah, yang menjabat Deputy Operasional Pegadaian Kanwil IV Balikpapan menyebut, program ini sebagai bentuk nyata ekonomi hijau berbasis komunitas.
“Ide dasarnya sederhana, ubah cara pandang masyarakat terhadap emas. Emas bukan hanya hasil investasi besar, tapi bisa dimulai dari tindakan kecil, seperti memilah sampah. Setiap botol plastik, setiap kertas bekas yang disetorkan ke bank sampah punya nilai. Dari situlah saldo tabungan emas terbentuk," jelasnya.
Pegadaian juga aktif memberikan pelatihan literasi keuangan dan lingkungan kepada komunitas bank sampah mitranya. “Kami ingin masyarakat paham, menabung emas itu mudah. Dan ketika disinergikan dengan pengelolaan sampah, manfaatnya berlipat ekonomi tumbuh, lingkungan bersih,” beber Ramdiyah.
Data Pegadaian Kanwil IV menunjukkan, dari sekitar 300 bank sampah binaan di Kalimantan, memang belum semuanya aktif. Namun, tren partisipasi terus meningkat. “Kami ingin setiap bank sampah punya sistem pembukuan digital agar lebih transparan. Digitalisasi ini juga membantu memperluas jangkauan edukasi ke masyarakat,” akunya.
Menurut Ramdiyah, Pegadaian tidak berhenti pada program, tapi juga melakukan pendampingan rutin melalui Forsepsi. “Kalau cuma bikin program tanpa pendampingan, pasti cepat mati. Karena mengelola sampah itu tidak mudah. Masyarakat kita masih banyak yang berpikir instan, pokoknya buang saja. Nah, kami hadir untuk mengubah mindset itu pelan-pelan,” tuangnya.
Emas yang Tidak Selalu Mengkilap
Kembali ke rumah pilah dan penimbangan Bank Sampah Induk Kota Hijau Balikpapan, menjelang pukul sebelas siang, mobil pick up berwarna putih datang menjemput hasil setoran pagi itu. Karung-karung besar diangkut satu per satu, meninggalkan halaman yang kembali rapi. Di sisi lain, Yanto bersiap pulang. Ia sempat menyalami para pengurus penimbang.
“Kadang saya datang ke sini cuma untuk bicara,” ucapnya pelan sambil tersenyum. “Tapi setiap kali pulang, saya selalu merasa lega. Karena tahu, saya sudah melakukan sesuatu, sekecil apa pun, untuk lingkungan.”
Di pojok halaman, para ibu-ibu berkaus hijau itu masih menimbang sibuk menimbang. Setiap botol, setiap lembar kardus, setiap tetes minyak jelantah yang dituang ke jeriken, seolah menceritakan kisah yang sama, bahwa perubahan tidak perlu menunggu kebijakan besar atau investasi besar.
Inilah misi besar yang dibawa Pegadaian, #mengEMASkanindonesia. Ia dimulai dari rumah, dari hati, dan dari keyakinan bahwa sampah pun bisa bernilai emas. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo