KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Industri pengolahan di Kalimantan Timur bukan hanya tumbuh dari sisi PDRB, tapi juga dari jumlah perusahaan dan tenaga kerja. Hingga 2023, terdapat 35.641 unit perusahaan industri mikro dan kecil (IMK) yang tersebar di seluruh wilayah Kaltim dengan serapan tenaga kerja mencapai 66.022 orang.
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana menyebut, sektor makanan mendominasi jumlah unit usaha maupun tenaga kerja. “Industri makanan dengan jumlah sebanyak 20.361 unit, dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 36.580 orang,” jelasnya mengutip laporan terbaru akhir September lalu.
Selain makanan, industri minuman juga mencatat angka signifikan dengan 3.127 unit usaha dan 6.286 tenaga kerja. Sektor tekstil tidak kalah penting, dengan 2.044 unit usaha dan 1.437 tenaga kerja.
Sementara itu, untuk industri berskala besar dan sedang (IBS), jumlah perusahaan di Kaltim pada 2024 mencapai 306 unit. Jumlahnya bertambah dibanding tahun 2023 yang tercatat sebanyak 291 unit. Balikpapan masih menjadi daerah dengan jumlah IBS terbesar.
“Jumlah perusahaan IBS di Balikpapan sebanyak 101 unit, disusul Kutai Kartanegara dengan 59 unit, dan Samarinda dengan 40 unit,” ungkap Yusniar. Data tersebut menunjukkan konsentrasi industri besar memang masih terpusat di kota-kota besar.
Dari sisi klasifikasi industri IBS, sebagian besar bergerak pada sektor pengolahan migas, kimia, serta industri berbasis hasil hutan. Dominasi tersebut sejalan dengan struktur ekonomi Kaltim yang masih ditopang sektor energi dan sumber daya alam.
Di sisi lain, industri pakaian jadi menyumbang 1.512 unit usaha dengan 1.197 tenaga kerja, sedangkan industri pengolahan kayu dan produk turunannya sebanyak 1.124 unit dengan 1.378 tenaga kerja.
Dengan bertambahnya jumlah perusahaan, baik IBS maupun IMK, sektor industri pengolahan Kaltim terus menunjukkan daya serap besar terhadap tenaga kerja lokal. “Jika dilihat berdasarkan Klasifikasi Industri, IMK di Kalimantan Timur didominasi industri makanan,” imbuhnya.
Tren tersebut diperkirakan terus berlanjut, seiring meningkatnya permintaan produk makanan, minuman, dan industri berbasis kebutuhan sehari-hari di masyarakat Kaltim. (*)
Editor : Dwi Restu A