Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Balikpapan Alami Deflasi Pada September 2025, Ini Kelompok yang Jadi Penyebab

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 17:40 WIB
SOROTAN: Penurunan harga berbagai komoditas hortikultura di Balikpapan didorong oleh meningkatnya produksi di daerah sentra seperti Sulawesi dan Jawa, serta kelancaran distribusi barang ke Balikpapan.
SOROTAN: Penurunan harga berbagai komoditas hortikultura di Balikpapan didorong oleh meningkatnya produksi di daerah sentra seperti Sulawesi dan Jawa, serta kelancaran distribusi barang ke Balikpapan.

KALTIMPOST.ID - Balikpapan kembali mengalami deflasi sebesar 0,06 persen (mtm) pada September 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka tersebut membuat inflasi tahunan (yoy) Balikpapan berada di level 1,15 persen, lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 2,65 persen maupun rata-rata empat kota di Kalimantan Timur yang mencapai 1,77 persen.

Dijelaskan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi, deflasi di kota ini terutama disumbang oleh penurunan harga pada kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil sebesar 0,16 persen.

“Harga bahan bakar rumah tangga yang menurun karena biaya distribusi lebih efisien, serta melimpahnya pasokan bahan pangan seperti bawang merah dan tomat dari daerah produksi, menjadi faktor utama deflasi bulan ini,” kata Robi.

Lima komoditas yang paling berpengaruh dalam deflasi Balikpapan antara lain bahan bakar rumah tangga, bawang merah, tomat, cabai rawit, dan kangkung. Penurunan harga berbagai komoditas hortikultura itu didorong oleh meningkatnya produksi di daerah sentra seperti Sulawesi dan Jawa, serta kelancaran distribusi barang ke pasar Balikpapan.

Meski demikian, sejumlah komoditas masih mencatatkan kenaikan harga. Kelompok transportasi menjadi penyumbang utama inflasi di Balikpapan dengan andil sebesar 0,14 persen. “Harga tiket pesawat meningkat setelah berakhirnya masa diskon tarif penerbangan, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas kedinasan,” ucapnya.

Selain angkutan udara, komoditas lain yang turut mendorong inflasi adalah daging ayam ras, emas perhiasan, air kemasan, dan biskuit. Sementara itu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mengalami inflasi ringan sebesar 0,07 persen (mtm) pada periode yang sama.

Secara tahunan, inflasi PPU tercatat sebesar 2,83 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dari rata-rata nasional. Peningkatan harga di PPU terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di antaranya daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, ikan bandeng, dan beras.

Robi menambahkan, tantangan ke depan adalah kondisi cuaca yang masih basah di daerah sentra produksi serta gelombang laut tinggi yang dapat memengaruhi pasokan hasil pertanian dan perikanan. “Kondisi ini perlu diantisipasi bersama agar pasokan tetap terjaga dan inflasi tidak meningkat,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia Balikpapan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan langkah konkret seperti pemantauan harga bahan pokok, gelar pangan murah, operasi pasar, serta memperkuat kerja sama antar daerah.

“Kami berkomitmen menjaga inflasi daerah agar tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2025, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen, melalui sinergi yang kuat antara BI, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan," tegasnya.

Dengan tren deflasi di Balikpapan dan inflasi ringan di PPU, kondisi harga di Kalimantan Timur dinilai masih terkendali dan berada pada jalur positif menuju stabilitas ekonomi yang berkelanjutan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#deflasi #badan pusat statistik #balikpapan