Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Krisis Nilai Gen Z

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 19:18 WIB
Psikolog Dra Dwita Salverry MM
Psikolog Dra Dwita Salverry MM

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah sorotan terhadap perilaku generasi Z di dunia kerja, banyak perusahaan mulai resah menghadapi karakter mereka yang dinilai mudah stres, cepat menyerah dan sulit beradaptasi dengan tekanan.

Namun, fenomena ini bukan sekadar soal daya tahan mental, melainkan persoalan mendasar pada pembentukan karakter dan nilai kehidupan yang kurang kukuh sejak dini.

Menurut Psikolog Dra Dwita Salverry, MM, secara psikologi, Gen Z memang terlihat lebih mudah stres dibanding generasi sebelumnya. Tapi itu bukan karena mereka lebih berani mengekspresikan kondisi mentalnya. “Itu dua hal yang tidak berkorelasi,” ucapnya, Sabtu (11/10).

Ia menjelaskan, akar masalahnya justru terletak pada cara Gen Z mengenali, memahami dan mengekspresikan emosi. Proses berpikir mereka sering kali tidak seimbang dengan aspek nilai dan perasaan, akibat derasnya arus informasi serta pola asuh yang serba instan.

“Mereka cepat mengambil kesimpulan hanya dengan pikiran tanpa filter nilai yang kuat. Pendidikan dan pola asuh yang kurang tepat membuat karakter tidak tumbuh kukuh. Banyak contoh yang tidak selaras antara perkataan dan perbuatan orang tua, guru atau pemimpin. Ini berdampak pada konsep diri mereka,” paparnya.

Menurut Dwita, pergeseran nilai ini membuat Gen Z cenderung menilai segala sesuatu dari sisi material dan popularitas, terutama di era digital. Keberanian mereka berekspresi bisa jadi sumber stres baru ketika tidak bisa seperti orang lain yang viral, banyak di-like atau dianggap sukses di dunia maya.

Fenomena seperti “quiet quitting” atau budaya kerja minimalis, lanjut Dwita, juga tidak lepas dari ekspektasi yang terlalu tinggi dibanding realitas yang dihadapi.

“Mereka ingin cepat berhasil, tapi sering kali tidak menghargai proses. Akibatnya, ketika kenyataan tak sesuai harapan, muncul kekecewaan dan stres. Ini juga karena mereka pintar secara intelektual, tetapi kurang adaptif terhadap nilai-nilai sosial,” katanya.

Untuk perusahaan, Dwita menekankan pentingnya memahami dinamika kepribadian calon karyawan sejak proses rekrutmen. Ia menyarankan agar HR tidak hanya terpaku pada nilai IPK atau angka di ijazah.

“Proses seleksi sebaiknya menekankan aspek kepribadian dan mental yang sesuai dengan budaya organisasi. Wawancara berbasis perilaku (behavioral interview) bisa membantu menilai kemampuan adaptasi dan ketahanan mental calon karyawan,” jelasnya.

Selain itu, Dwita mendorong perusahaan untuk menumbuhkan budaya mindfulness dan empati dalam organisasi.

“Mindfulness penting agar karyawan sadar akan keberadaan dirinya, baik di tempat kerja maupun di rumah. Perusahaan juga perlu membangun budaya kepemimpinan yang melayani, bukan sekadar menjalankan tanggung jawab sosial. Dari situ tumbuh rasa peduli dan keseimbangan hidup,” ungkapnya.

Menariknya, Dwita menilai bahwa Gen Z bukan generasi yang anti kritik, asalkan komunikasi dilakukan dengan cara yang tepat. “Sebetulnya Gen Z malah lebih mudah dikritik dibanding generasi lama. Kalau budaya brainstorming dan refleksi dibiasakan tanpa merendahkan, mereka justru cepat beradaptasi dan menerima masukan,” katanya.

Melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan berorientasi nilai, Dwita percaya bahwa generasi muda ini bisa menjadi aset besar bagi organisasi. “Tugas kita bukan menilai mereka lemah, tapi membantu mereka menemukan keseimbangan antara pikiran, perasaan, dan nilai hidup. Dari sana, daya juang dan ketangguhan mental akan tumbuh alami,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#generasi z #stres #Tekanan #Gen Z #karakter #nilai kehidupan