Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Risiko Geopolitik Tekan Optimisme, Kredit Kaltim Melambat pada Triwulan II 2025

Raden Roro Mira Budi Asih • Senin, 13 Oktober 2025 | 14:55 WIB

PERLAMBATAN: Penyaluran kredit triwulan II 2025 alami perlambatab. Dipicu oleh kontraksi pada kredit modal kerja yang tertekan akibat turunnya optimisme pelaku usaha.
PERLAMBATAN: Penyaluran kredit triwulan II 2025 alami perlambatab. Dipicu oleh kontraksi pada kredit modal kerja yang tertekan akibat turunnya optimisme pelaku usaha.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penyaluran kredit di Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan II 2025 mengalami perlambatan. Kondisi itu utamanya dipicu oleh kontraksi pada kredit modal kerja yang tertekan akibat turunnya optimisme pelaku usaha di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

"Penyaluran kredit Kaltim mengalami perlambatan, disebabkan utamanya oleh kontraksi kredit modal kerja. Penyaluran kredit Kaltim pada triwulan II 2025 terkontraksi, sejalan dengan kontraksi kredit modal kerja akibat penurunan optimisme pelaku usaha di tengah peningkatan risiko geopolitik," jelas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto.

Dia melanjutkan, kredit pada sektor utama juga mengalami kontraksi seiring perlambatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Meski begitu, sebagian besar kabupaten dan kota masih mencatat pertumbuhan positif, dengan penyaluran kredit terbesar terkonsentrasi di Balikpapan dan Samarinda.

Baca Juga: Impor Barang Modal Kaltim Anjlok 29,12 Persen, Bahan Baku Tetap Mendominasi

Menurut Budi, stabilitas perbankan tetap terjaga. “Penyaluran kredit yang tumbuh positif diikuti dengan risiko kredit yang tetap rendah, tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) yang rendah dan berada di bawah threshold 5 persen. Rasio NPL di Kaltim yang rendah ini tidak terlepas dari upaya penerapan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko oleh sektor perbankan,” ujarnya.

Sejalan dengan perlambatan kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga melambat. DPK di Kaltim masih didominasi oleh nasabah perseorangan yang mengalami perlambatan seiring turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi.

Baca Juga: Lesunya Impor Nonmigas Kaltim, Hanya Sektor Ini yang Meningkat

“DPK korporasi dan pemerintah turut mencatatkan perlambatan, seiring dengan kebutuhan likuiditas korporasi dalam mendukung kegiatan usaha serta kecenderungan pemerintah menjaga fleksibilitas fiskal di tengah kebijakan efisiensi anggaran,” sambung Budi.

Meski demikian, kinerja DPK perbankan syariah masih menunjukkan arah positif. “DPK Syariah tercatat masih tumbuh positif mengindikasikan kepercayaan terhadap perbankan syariah serta potensi penguatan intermediasi syariah Kaltim ke depan,” tutupnya. (*)

Editor : Muhammad Rizki
#penyaluran kredit #bank indonesia #kaltim