KALTIMPOST.ID, Tekanan inflasi yang terjadi di Kaltim pada triwulan III tahun 2025 diperkirakan akan menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Kenaikan harga ini terutama didorong oleh kombinasi beberapa faktor struktural, baik yang bersifat musiman maupun akibat adanya penyesuaian kebijakan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Budi Widihartanto, menyampaikan bahwa proyeksi kenaikan inflasi ini tidak dapat dilepaskan dari kompleksitas dinamika perekonomian di tingkat regional.
“Laju inflasi yang lebih tinggi terutama disebabkan oleh periode pembayaran biaya sekolah mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Selain itu, berakhirnya diskon tarif angkutan udara pada bulan Agustus serta penyesuaian harga BBM di bulan Juli turut mendorong tekanan inflasi di triwulan III,” jelas Budi Widihartanto dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu (15/10).
Budi menambahkan, faktor utama yang menjadi katalis kenaikan inflasi adalah periode tahunan pembayaran biaya sektor pendidikan, mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Fenomena musiman ini secara konsisten memberikan kontribusi signifikan terhadap tekanan harga, khususnya pada kelompok jasa pendidikan.
Selain itu, berakhirnya program potongan harga pada tarif angkutan udara di bulan Agustus 2025 turut memperberat beban inflasi pada sektor transportasi.
Kontribusi lain datang dari penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mulai berlaku pada Juli 2025, yang juga ikut memicu peningkatan laju inflasi secara agregat.
Menurut Budi, ketiga faktor pendorong tersebut secara bersamaan menciptakan kombinasi kuat yang menekan daya beli masyarakat.
Meskipun demikian, ia menyebutkan adanya faktor-faktor penyeimbang yang berpotensi meredam laju inflasi yang diprediksi ini.
Salah satunya adalah penyaluran beras secara masif melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sejak Agustus 2025, yang diharapkan mampu menahan lonjakan harga beras.
Selain itu, masa panen raya bawang merah yang diperkirakan terjadi pada periode yang sama juga diproyeksikan dapat menurunkan harga komoditas hortikultura strategis ini.
Sebagai informasi, inflasi Kaltim pada Juli 2025 sempat melambat, baik secara tahunan maupun bulanan, jika dibandingkan dengan posisi bulan Juni 2025.
Inflasi tahunan (yoy) tercatat sebesar 2,08 persen, mengalami kenaikan dari 1,62 persen (yoy) pada Juni 2025.
Sementara itu, inflasi bulanan (mtm) tercatat sebesar 0,06 persen, meningkat signifikan dari posisi deflasi 0,38 persen (mtm) pada periode sebelumnya.
Walaupun proyeksi inflasi untuk Kuartal III/2025 masih berada dalam batas target yang ditetapkan, Budi mengingatkan bahwa berbagai risiko penurunan (downside risk), terutama yang berasal dari sisi pasokan, harus tetap diwaspadai.
Budi menjelaskan bahwa curah hujan tinggi yang diprediksikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Agustus hingga September 2025 berpotensi mengganggu hasil produksi pertanian. Komoditas hortikultura, yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca, menjadi yang paling rentan terdampak.
“BMKG memproyeksikan bahwa pada September 2025, sebagian besar wilayah Kalimantan Timur akan mengalami curah hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi (200-500 milimeter per bulan). Kondisi ini berpotensi memicu banjir dengan intensitas rendah hingga menengah di beberapa lokasi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Budi menyoroti dampak dari fenomena iklim global. Ia menyebut anomali Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature/SST) di wilayah Nino3.4 menunjukkan indeks---0,20, sementara Indeks Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole / IOD) berada dalam kategori netral dengan indeks -0,50.
Fase netral IOD ini diperkirakan akan bertahan hingga semester kedua 2025, yang akan memengaruhi pola curah hujan di kawasan Indonesia Timur. ()*
Editor : Almasrifah