KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Suara anak-anak beraktivitas belajar mengajar terdengar di antara riak air Sungai Mahakam, Desa Sepatin. Dari kejauhan, bangunan kayu di tepi sungai tampak sederhana. Namun siapa sangka, di balik sekolah terapung itu tersimpan kisah besar tentang perjuangan membebaskan generasi muda dari jerat Napza dan kemiskinan pendidikan.
Desa Sepatin di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, adalah salah satu wilayah pesisir di Delta Mahakam yang selama ini dikenal sebagai daerah sulit dijangkau. Untuk mengakses saja harus melalui jalur sungai dan menghabiskan waktu selama dua jam dari dermaga Anggana.
Di balik keindahan hamparan alamnya, wilayah ini menyimpan realitas keras, keterbatasan akses pendidikan, minimnya sarana, serta maraknya peredaran narkotika jenis sabu-sabu.
“Letaknya strategis, jadi sering jadi tempat transit. Biasanya sabu-sabu datang dari Sulawesi atau daerah lain, lalu singgah di sini. Bahkan ada warga yang memakai dengan alasan supaya kuat melaut,” ucap Kepala Desa Patin, Arianto Juanda, kepada Kaltim Post belum lama ini.
Sebelum sekolah disini disentuh, dengan bebas masyarakat sekitar menggunakan barang terlarang ini. Bukan hal yang tabu lagi, sering para pemakai ini menggunakan di teras rumah atau bahkan di warung kopi.
Namun situasi mulai berubah sejak Pertamina Hulu Mahakam (PHM) hadir membawa semangat baru melalui Program Sekolah Negeri Terapung, SMPN 6 dan SD016 . Sejak 2021, PHM bersama Indonesia Mengajar menginisiasi program berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan pesisir mulai dari pelatihan guru, bantuan sarana pembelajaran, hingga pemberdayaan masyarakat.
“Titik balik, sejak PHM serius mengembangkan sekolah disini, perlahan, para pengguna ini tidak menampakkan diri. Yang kita kasihan ini, anak-anak sekolah harus melihat hal seperti itu, yang kita takutkan mereka malah mencontoh,” bebernya.
Menariknya, di desa ini, edukasi bahaya Napza sering digelar khususnya untuk murid-murid sekolah. Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), para guru di sekolah terapung bersama relawan PHM memberikan penyuluhan kepada siswa dan masyarakat.
“Ketika murid kami ditanya tentang Napza, mereka sudah tahu, bahkan pernah melihat langsung. Itu yang berbahaya, karena artinya paparan sudah dekat. Maka kami lakukan edukasi di sekolah dan dirumah,” ujar Zulkifli, Guru SMPN 6 Desa Sepatin, Kecamatan Anggana.
Kini, para siswa mulai paham bahaya narkoba dan menjadi peer educator bagi teman-temannya. Program ini bahkan melahirkan “Duta Napza” di kalangan pelajar Desa Sepatin. PHM juga mengintegrasikan nilai-nilai kesehatan dan lingkungan ke dalam kurikulum sekolah rujukan, menjadikannya pilot project P5 bertema Lingkungan & Napza di kawasan pesisir.
Salah satu murid SMPN 6 Sepatin, Siti Kharisma mengaku, tahun dan pernah melihat orang-orang menggunakan bahan terlarang tersebut. “Ya, dulu waktu kecil saya lihat orang-orang itu banyak memakai. Tapi Alhamdulilah, sekarang ini saya sudah tidak pernah lihat, bersekolah juga saya tenang dan nyaman,” bebernya.
Menurut Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, program Sekolah Negeri Terapung tidak hanya soal membangun infrastruktur, tetapi juga tentang membangun karakter dan kemandirian.
“Sejak awal, kami ingin pendidikan menjadi pintu perubahan sosial. Kami bantu guru menjadi penggerak, dukung sarjana pesisir untuk kembali mengajar, dan dorong siswa agar percaya diri bersaing hingga tingkat nasional,” ujarnya.
Upaya itu terbukti. Dalam kurun 2022–2024, sekolah-sekolah binaan PHM berhasil meraih 62 penghargaan di berbagai tingkatan dari kecamatan hingga internasional. Termasuk di antaranya Silver Award The 16th Global CSR Award di Hanoi, Vietnam, serta prestasi siswa SMPN 6 Anggana yang meraih Juara 1 lomba menggambar internasional di Amerika Serikat.
Selain itu, tiga guru pesisir terpilih menjadi penyusun modul Kemendikbud RI, dua guru ikut kompetisi seni Asia Tenggara, dan satu guru menerima beasiswa ke Amerika. Hingga 2024, sudah 101 siswa pesisir berhasil lolos ke perguruan tinggi melalui beasiswa KIP, serta empat lulusan sarjana kembali ke desa menjadi tenaga pendidik.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan PLTS menurunkan emisi hingga 7,638 ton CO₂ per tahun, menghemat 3.600 liter bahan bakar, dan menekan biaya operasional sekolah hingga Rp38,8 juta per tahun.
Zulkifli sebagai seorang guru, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Sekarang anak-anak datang ke sekolah dengan semangat luar biasa. Disuruh datang sore untuk pelajaran tambahan pun mereka hadir semua,” katanya tersenyum.
Namun tantangan tetap ada, yakni mengubah pola pikir orang tua yang masih memprioritaskan pekerjaan dibanding pendidikan. Karena itu, ia bersama para guru rutin melakukan home visit dan sosialisasi agar kesadaran masyarakat tumbuh dari rumah.
Dari ruang kelas sederhana di atas air, Desa Sepatin kini menjadi simbol perubahan. Anak-anak yang dulu hidup di lingkungan rawan Napza mulai berani bermimpi. Para guru yang dulu datang dengan ragu kini bertahan dengan semangat pengabdian. “Kalau bukan kita yang bantu mereka, siapa lagi?” tutup Zulkifli.(aji/bersambung)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo