Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dari Kotoran Sapi Menjadi Harapan Desa: Transformasi Hijau dari Desa Karya Jaya

Ajie Chandra • Jumat, 31 Oktober 2025 | 21:22 WIB
INOVASI: Melalui pembinaan PT Pertamina Gas Operation Kalimantan Area (OKA), limbah hewan disulap menjadi produk pupuk dan membuat petani di Desa Karya Jaya lebih produktif.
INOVASI: Melalui pembinaan PT Pertamina Gas Operation Kalimantan Area (OKA), limbah hewan disulap menjadi produk pupuk dan membuat petani di Desa Karya Jaya lebih produktif.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Siapa sangka, tumpukan kotoran sapi yang dulu hanya menimbulkan bau di Desa Karya Jaya, Kukar kini berubah menjadi sumber kehidupan baru.

Melalui pembinaan PT Pertamina Gas Operation Kalimantan Area (OKA), limbah hewan tersebut disulap menjadi produk pupuk organik yang menyuburkan tanah, menumbuhkan sayuran, dan memutar roda ekonomi desa.

“Dulu, hampir setiap rumah punya dua sampai tiga ekor sapi. Tapi limbahnya ya begitu saja, ditumpuk di belakang rumah. Padahal rumput untuk sapi butuh pupuk, sementara pupuk subsidi makin sulit,” kenang Direktur BUMDes Mitra Karya Desa Karya Jaya, Samboja, Kukar, Suwardani, belum lama ini.

Kesadaran itulah yang menyalakan ide sederhana, bagaimana kalau kotoran sapi diolah jadi pupuk kompos. Namun semangat saja tak cukup. Butuh ilmu dan pendampingan. Titik balik pun datang ketika PT Pertamina Gas Operation Kalimantan Area (OKA) hadir melalui program pemberdayaan masyarakat pada 2023.

Transformasi di Desa Karya Jaya, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara bermula dari proses social mapping atau pemetaan sosial yang dilakukan Pertamina Gas OKA. Dari situ tergambar jelas potensi dan tantangan yang dihadapi desa.

“Dari pemetaan sosial itu terlihat desa punya kekuatan besar di sektor pertanian, UMKM dan pengelolaan air bersih. Tapi juga menghadapi tantangan, terutama lahan kritis dan keterbatasan pupuk. Dari situ kami berdiskusi dengan masyarakat untuk mencari solusi bersama,” jelas Revi Ayu Malinda, Community Development Officer (CDO) PT Pertamina Gas OKA.

Solusi itu lahir dalam bentuk pelatihan pembuatan pupuk kompos dari limbah ternak. Pertamina Gas tak hanya menghadirkan peralatan, tapi juga pengetahuan tentang cara fermentasi, pengujian kualitas, hingga manajemen produksi.

“Dulu, di tahun 2001 memang dari Kagama UGM, program pengembangan pupuk ini sudah sempat dijalankan di desa ini. Namun, kami hadir disini untuk memolesnya, agar mereka lebih berkembang,” bebernya. Saat ini, dari yang awalnya sekadar Bumdes Karya Jaya mampu memproduksi hingga 4–5 ton pupuk setiap siklus.

Ia masih ingat, produksi awal dilakukan manual. “Awalnya cuma 500 kilo, diaduk pakai cangkul. Dua hari fermentasi, hasilnya langsung dicoba di kebun. Dan ternyata, tanaman tumbuh bagus,” ujarnya.

Dukungan peralatan dari Pertamina Gas mempercepat proses. Pupuk yang dulu dibuat seadanya, kini diproduksi dengan standar mutu. “Sekali produksi bisa sampai satu ton pupuk matang,” tambahnya.

Kini, harga jual pupuk mencapai Rp18.000 per karung untuk masyarakat luar desa, sementara anggota kelompok tani mendapat harga khusus. Setiap kali produksi, sekitar 50 karung langsung habis dibeli petani sekitar. Ekonomi desa pun mulai berputar dan lingkungan terbebas dari tumpukan limbah sapi.

Kini, unit produksi pupuk Bumdes mempekerjakan tiga warga tetap, memberdayakan 10 RT dengan total 500 kepala keluarga. Selain membantu petani, usaha ini juga menumbuhkan rasa percaya diri bahwa desa bisa mandiri tanpa bergantung pada pupuk subsidi.

Budi Purnomo, petani di Desa Karya Jaya, menjadi salah satu penerima manfaat terbesar. Di lahan setengah hektare miliknya, ia menanam cabai keriting, timun, dan kacang panjang. “Dua hari sekali panen, dua hari sekali dapat uang,” katanya sambil menata hasil panen.

“Kalau dulu kita tergantung pupuk kimia, sekarang kami bisa bikin sendiri. Kalau pupuk kimia bahkan bisa mencapai Rp 50 ribu per kg,” terangnya. Dalam seminggu, hasil panennya bisa mencapai 100 kilogram buncis atau kacang panjang. Dengan harga Rp5.000 per kilo, penghasilan pun stabil. “Tanahnya juga makin subur, tanaman lebih kuat,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, dulunya ia merupakan pedagang ikan. Namun, karena lebih untung saat ini menjadi petani, akhirnya tiga tahun ke belakang dia mulai mencoba menanam. “Seiring adanya pupuk ini dan bantuan dari Pertamina Gas, saya mendalami profesi baru saya menjadi petani. Ya sekarang saya sudah tidak jualan ikan,” terangnya.

PENDAMPINGAN: Petani di Desa Karya Jaya, Samboja, Budi Purnomo berbincang dengan Manager Operation Pertagas Kalimantan Area, Dedi Mariadi.
PENDAMPINGAN: Petani di Desa Karya Jaya, Samboja, Budi Purnomo berbincang dengan Manager Operation Pertagas Kalimantan Area, Dedi Mariadi.

Hasil kerja keras warga dan pendampingan Pertamina Gas kini melahirkan 12 jenis produk pupuk, dari organik murni hingga semi-kimia. “Kami ingin petani bukan hanya produktif, tapi juga ramah lingkungan. Dari sinilah kemandirian desa mulai tumbuh,” kata Suwardani kembali.

Selain pengembangan pupuk, Bumdes juga mendorong produk-produk pertanian. Saat ini, sudah ada sekitar tiga produk tani. Timun, kacang panjang dan buncis. “Produk tani, timun sekarang sudah berkembang pesat. Panen timun pertama kami hanya 25 kilo. Setelah pakai pupuk olahan sendiri bisa 45 kilo. Panen kedua prediksinya 100 kilo, ternyata 174 kilo. Panen ketiga malah tembus 271 kilo,” katanya.

Pertamina Gas OKA melihat hal ini sebagai bukti nyata bahwa pemberdayaan bukan sekadar bantuan, melainkan kolaborasi jangka panjang. “Program ini bagian dari komitmen kami untuk menciptakan masyarakat mandiri dan lingkungan yang berkelanjutan,” Manager Operation Pertagas Kalimantan Area, Dedi Mariadi.

Selain menggarap sektor produksi, Pertamina Gas memberi pelatihan dan sesi berbagi pengetahuan, masyarakat saling belajar tentang pertanian berkelanjutan. Harapannya, praktik baik ini dapat direplikasi oleh kelompok lain yang ingin menapaki jalan serupa menuju kemandirian.

Tak berhenti di bidang pertanian, semangat berinovasi juga merambah ke sektor energi. Prinsip efisiensi dan ramah lingkungan kini mulai diterapkan di desa ini. Pertagas kembali hadir, kali ini lewat pemasangan panel surya yang menjadi sumber energi bersih bagi kegiatan warga.

Panel berkapasitas 8,8 kWp dengan baterai 20 kW (setara 20.000 Watt) kini menyuplai listrik untuk rumah kompos, penerangan, hingga pompa air. “Untuk kebutuhan di sini, 20 ribu Watt itu sudah lebih dari cukup,” ujar Revi sambil tersenyum. Pembangunannya pun dilakukan bertahap, menyesuaikan kebutuhan energi tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan,” katanya.

Dari limbah yang dulu jadi masalah, kini tumbuh harapan baru. Desa Karya Jaya bukan sekadar menanam sayur mereka menanam masa depan. Sebuah bukti bahwa ketika masyarakat, perusahaan, dan alam berjalan seirama, kemandirian bukan lagi impian. (aji)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pertanian #kukar #kotoran sapi #pertamina #pupuk organik