KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat sejumlah komoditas memberi andil terbesar terhadap inflasi Oktober 2025. Dari perhiasan hingga kebutuhan pokok, semuanya menyumbang kenaikan harga tahunan 1,94 persen.
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana menjelaskan, inflasi terjadi karena dorongan harga dari berbagai kelompok pengeluaran. “Inflasi year-on-year (yoy) terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” ungkapnya.
Kontributor utama inflasi berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 12,13 persen dan menyumbang 0,79 persen terhadap total inflasi. Dalam kelompok itu, emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,70 persen, diikuti pasta gigi, sabun mandi, dan shampo masing-masing 0,01 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberi pengaruh signifikan dengan kenaikan 3,74 persen dan andil 1,10 persen. "Komoditas penyumbang utama antara lain beras (0,23 persen), sigaret kretek mesin (0,16 persen), ikan layang (0,13 persen), kopi bubuk (0,12 persen), serta minyak goreng (0,08 persen)," papar Yusniar.
Selain itu, kelompok pendidikan turut mendorong inflasi dengan andil 0,12 persen, dipicu kenaikan biaya pendidikan akademi/perguruan tinggi dan biaya sekolah dasar masing-masing 0,04 persen.
Sementara kelompok yang menekan inflasi di antaranya transportasi, dengan deflasi 1,43 persen akibat turunnya tarif angkutan udara yang menyumbang penurunan 0,31 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yoy pada Oktober 2025 antara lain emas perhiasan, beras, sigaret kretek mesin, ikan layang, kopi bubuk, minyak goreng, dan bawang merah,” jelas Yusniar Juliana.
Meski beberapa harga pangan naik, dia menilai kondisi harga secara umum masih terkendali berkat keseimbangan antara komoditas inflatif dan deflatif. Dengan pengawasan distribusi dan stok bahan pokok, inflasi diharapkan tetap stabil hingga akhir tahun. (*)
Editor : Ismet Rifani