KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Sepanjang September 2025, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Balikpapan mengalami penurunan.
Bahkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan, tingkat hunian rata-rata hanya mencapai 53,52 persen, turun 2,24 poin dibandingkan bulan sebelumnya dan merosot 12,36 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini mengindikasikan melambatnya aktivitas sektor pariwisata dan perjalanan bisnis di kota yang dikenal sebagai gerbang ekonomi Kalimantan Timur ini.
Dari seluruh klasifikasi, hotel bintang 5 masih menjadi yang tertinggi dengan tingkat hunian mencapai 62 persen, sementara hotel bintang 1 dan 2 menjadi yang terendah, hanya 34,33 persen.
“Meski begitu, fluktuasi ini juga bisa dipengaruhi oleh faktor musiman dan tren perjalanan masyarakat,” ungkap Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama, Senin (3/11). Ia menjelaskan turunnya tingkat hunian hotel menunjukkan perlambatan pergerakan wisatawan maupun pelaku bisnis.
Di lain sisi periode September bukan waktu puncak kunjungan wisata ataupun kegiatan korporasi besar. “Namun, tren ini tetap menjadi perhatian karena penurunan lebih dari 12 poin dibandingkan tahun lalu, cukup signifikan,” kata Marinda.
Berdasarkan data BPS, puncak hunian hotel di Balikpapan terjadi pada Oktober 2024, dengan TPK mencapai 71,76 persen. Sementara titik terendah terjadi pada Maret 2025, hanya 39,20 persen.
Sepanjang tahun, pergerakan TPK menunjukkan tren yang cenderung menurun, mencerminkan masih terbatasnya kegiatan besar dan potensi tekanan pada sektor perhotelan.
Selain tingkat hunian, rata-rata lama menginap tamu juga menunjukkan penurunan. Pada September 2025, rata-rata tamu menginap hanya 1,67 hari, turun dari 1,75 hari pada Agustus 2025. Rata-rata lama menginap tamu asing turun 0,06 hari menjadi 2,60 hari, sedangkan tamu nusantara turun 0,08 hari menjadi 1,66 hari.
Menariknya, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tamu asing justru mengalami peningkatan lama menginap sebesar 0,61 hari. Hal ini menunjukkan bahwa meski jumlah wisatawan mungkin menurun, segmen wisatawan mancanegara yang datang cenderung menghabiskan waktu lebih lama di Balikpapan.
“Faktor bisnis jangka panjang, seperti proyek energi, migas, dan pembangunan infrastruktur di kawasan Kaltim bisa menjadi alasan meningkatnya lama tinggal tamu asing,” ungkap Marinda.
Penurunan okupansi hotel ini diperkirakan turut menekan pendapatan sektor jasa akomodasi dan restoran di Balikpapan. Para pelaku usaha hotel diharapkan mampu beradaptasi dengan menawarkan paket-paket menarik, memanfaatkan momentum event daerah, atau menjalin kerja sama dengan sektor korporasi.
Marinda juga pun berharap keberlanjutan proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dapat menjadi peluang pemulihan industri perhotelan di Balikpapan. “Balikpapan masih menjadi pintu utama menuju IKN. Jika konektivitas dan kegiatan bisnis di wilayah itu meningkat, maka dampaknya akan langsung terasa pada sektor akomodasi di kota ini,” jelasnya.
Meski menghadapi tekanan pada 2025, pelaku industri perhotelan Balikpapan optimistis pemulihan akan terjadi pada kuartal pertama 2026 seiring meningkatnya aktivitas proyek dan kunjungan kerja di Kalimantan Timur.
"Dengan tingkat hunian yang sempat mencapai 70 persen tahun lalu, Balikpapan masih menyimpan potensi besar untuk kembali pulih, asalkan pelaku pariwisata dan pemerintah daerah mampu bersinergi memperkuat promosi, event wisata, serta kemudahan akses bagi pengunjung domestik maupun mancanegara," tandasmya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo