KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Meski sektor tambang masih jadi tulang punggung ekspor Kalimantan Timur, kinerjanya justru ikut melambat pada September 2025. Nilai ekspor total Bumi Etam tercatat turun 8,23 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dengan penurunan paling tajam berasal dari sektor industri.
Dijelaskan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana, penurunan ekspor Kaltim terjadi di hampir semua sektor. “Penurunan pada ekspor nonmigas dialami sektor pertambangan sebesar 1,56 persen, dan sektor industri sebesar 27,31 persen. Sebaliknya, ekspor hasil pertanian mengalami peningkatan 54,48 persen,” jelasnya.
Secara bulanan (month to month/mtm), nilai ekspor Kaltim merosot dari USD1.828,97 juta pada Agustus, menjadi USD1.678,36 juta di September 2025. Sektor nonmigas menurun 7,37 persen menjadi USD1.532,25 juta, sedangkan ekspor migas turun 16,37 persen menjadi USD146,11 juta.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, baik migas maupun nonmigas, justru masih mencatatkan pertumbuhan. “Peningkatan sektor nonmigas disebabkan karena naiknya ekspor hasil industri 10,04 persen meski ekspor hasil tambang dan hasil pertanian mengalami penurunan masing-masing 0,82 persen dan 27,74 persen,” ujarnya.
Rinciannya, sektor hasil tambang masih mendominasi dengan nilai ekspor USD1.256,11 juta, diikuti hasil industri USD273,90 juta, dan hasil pertanian USD2,24 juta pada September 2025.
Secara kumulatif Januari hingga September 2025, hasil tambang berperan paling besar dalam struktur ekspor Kaltim dengan kontribusi 69,82 persen. Sementara hasil industri menyumbang 20,50 persen, dan migas 9,58 persen.
Selama sembilan bulan pertama 2025, total ekspor Kaltim tercatat USD15.240,62 juta, turun 14,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (*)
Editor : Dwi Restu A