Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Angka Kemiskinan di Balikpapan Turun, Tapi Kesenjangan Pengeluaran Meningkat

Ulil Mu'Awanah • Jumat, 7 November 2025 | 15:47 WIB
Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.
Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tingkat kemiskinan di Balikpapan menunjukkan perbaikan pada Maret 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin turun menjadi 1,97 persen atau berkurang 0,26 persen poin dibandingkan periode Maret 2024 yang tercatat 2,23 persen.

"Jumlah penduduk miskin kini berada di angka 12,88 ribu orang, turun sekitar 1,65 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya," sebut Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.

Namun, meskipun tingkat kemiskinan turun, dua indikator penting lainnya justru menunjukkan peningkatan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) naik dari 0,13 menjadi 0,34, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) naik dari 0,01 menjadi 0,10.

Kenaikan dua indeks ini menggambarkan adanya peningkatan kesenjangan pengeluaran antara penduduk miskin dengan garis kemiskinan, serta ketimpangan antar penduduk miskin itu sendiri.

Ia menjelaskan bahwa penurunan tingkat kemiskinan merupakan hasil dari stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi kota yang tetap positif, meski tantangan daya beli masyarakat masih terasa.

“Secara umum, tingkat kemiskinan Balikpapan terus menurun dalam satu dekade terakhir. Ini menunjukkan arah pembangunan yang konsisten. Namun, kenaikan indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan perlu menjadi perhatian karena artinya jurang ekonomi antarpenduduk miskin semakin melebar,” ujarnya.

Marinda menambahkan, garis kemiskinan Balikpapan pada Maret 2025 tercatat sebesar Rp 836.374 per kapita per bulan, naik 6,92 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 782.248. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya harga komoditas kebutuhan dasar, baik pangan maupun nonpangan.

“Kenaikan garis kemiskinan ini mengindikasikan bahwa kebutuhan minimum hidup layak juga semakin tinggi. Penduduk yang pengeluarannya tidak mengikuti kenaikan tersebut berisiko jatuh dalam kategori miskin,” jelasnya.

BPS juga mencatat bahwa inflasi Balikpapan pada Maret 2025 relatif terkendali, yakni sebesar 1,38 persen (year on year). Kondisi ini membantu menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga bahan pokok.

Sementara dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 mencapai 7,97 persen dibandingkan triwulan I-2024. Sektor tersier menjadi penopang utama dengan pertumbuhan tertinggi 12,87 persen, diikuti konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,51 persen.

“Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi menjadi kombinasi penting untuk mengurangi kemiskinan. Tapi kita juga perlu memastikan manfaat pertumbuhan itu dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat,” tambah Marinda.

Secara historis, Balikpapan telah mencatat tren penurunan kemiskinan cukup konsisten sejak 2015. Sepanjang satu dekade terakhir, persentase penduduk miskin berhasil ditekan dari 2,81 persen pada 2015 menjadi 1,97 persen pada 2025, bahkan sempat naik pada masa pandemi COVID-19 di tahun 2020 yang mencapai 2,89 persen sebelum kembali turun secara bertahap.

BPS menilai bahwa keberhasilan menekan kemiskinan tidak hanya bergantung pada sektor ekonomi, tetapi juga sinergi program sosial, peningkatan lapangan kerja, serta pemerataan layanan pendidikan dan kesehatan. Namun, angka Relative Standard Error (RSE) untuk estimasi penduduk miskin Balikpapan tercatat 40,71 persen, yang berarti data tetap perlu diinterpretasikan dengan hati-hati.

Dengan capaian tersebut, Balikpapan masih menjadi salah satu kota dengan tingkat kemiskinan terendah di Kalimantan Timur. Namun, sinyal kenaikan kedalaman dan keparahan kemiskinan menjadi peringatan dini bahwa keberlanjutan kesejahteraan harus terus dijaga melalui kebijakan inklusif dan pemerataan ekonomi di tingkat akar rumput.

“Pemerintah daerah bersama dunia usaha dan masyarakat perlu menjaga momentum ini. Meski jumlah penduduk miskin menurun, tantangan utama adalah memastikan kelompok rentan tidak kembali jatuh miskin akibat ketimpangan pengeluaran yang meningkat,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#turun #angka kemiskinan #penduduk #badan pusat statistik #balikpapan #miskin