KALTIMPOST,ID, BALIKPAPAN - Semester pertama tahun 2025 menjadi periode sulit bagi industri perhotelan di Balikpapan. Kebijakan efisiensi dan pengetatan anggaran pemerintah membuat sejumlah kegiatan resmi yang biasa digelar di hotel menurun drastis, berdampak langsung pada tingkat hunian kamar.
“Sejak Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, dampaknya terasa sekali. Pemerintah masuk dengan program efisiensi dan penganggaran ketat, sehingga kegiatan pemerintahan yang merupakan backbone bisnis hotel langsung turun,” kata General Manager Blue Sky Hotel Balikpapan I Nyoman Bandisa Sastika.
Menurutnya, hampir semua hotel baik nasional maupun di Balikpapan mengalami hal serupa. Kegiatan rapat, pelatihan, hingga seminar yang biasanya menjadi sumber pendapatan utama berkurang signifikan.
“Itu hampir semua teman-teman hotel juga merasakannya. Tapi syukurnya bulan Juli sudah mulai longgar, okupansi mulai naik ke sekitar 50 persen,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa ketergantungan sektor hotel terhadap kegiatan pemerintahan masih tinggi, terutama karena Balikpapan merupakan kota administratif dan industri dengan perputaran bisnis yang besar. Saat anggaran belum cair atau program efisiensi diberlakukan, okupansi pun tertekan.
Meski begitu, dirinya tetap optimistis terhadap prospek kuartal ketiga dan keempat. Berdasarkan tren dua tahun terakhir, kegiatan pemerintah biasanya meningkat pada akhir tahun untuk mengejar serapan anggaran.
“Biasanya kuartal ketiga itu waktunya pemerintah menyelesaikan kegiatan dan anggaran. Jadi kita masih punya harapan besar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan ini menjadi pelajaran penting bagi pelaku industri untuk lebih kreatif mencari pasar baru. “Kami mulai memperkuat segmen korporat dan industri karena tidak bisa hanya bergantung pada satu sumber tamu saja,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo