KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan Kalimantan Timur meningkat pada September 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah barang yang diangkut melalui jalur laut mencapai 9.386,71 ribu ton, naik 5,24 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan sejalan dengan meningkatnya volume barang yang diangkut di sejumlah pelabuhan utama. Di antaranya, Pelabuhan Kuala Samboja yang naik tajam 31,70 persen, Pelabuhan Samarinda naik 19,61 persen, Semayang-Balikpapan naik 11,26 persen, dan Sangatta naik 0,95 persen.
Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana menjelaskan, peningkatan aktivitas pengangkutan barang di beberapa pelabuhan menjadi indikator positif bagi sektor perdagangan dan logistik di daerah. Meski begitu, sebagian pelabuhan lain masih mengalami perlambatan.
“Jumlah barang yang diangkut melalui jalur angkutan laut pada September 2025 mencapai 9.386,71 ribu ton atau naik 5,24 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” ujar Yusniar.
Dia menyebut, penurunan volume barang terjadi di beberapa pelabuhan seperti Kariangau yang turun 41,79 persen, Tanjung Santan turun 22,82 persen, Bontang turun 20,19 persen, Tanah Grogot turun 7,11 persen, Sangkulirang turun 4,73 persen, serta Tanjung Redeb turun 1,18 persen.
Berdasarkan data BPS, Pelabuhan Kuala Samboja menjadi jalur laut paling sibuk dengan 3.275,25 ribu ton barang atau 34,89 persen dari total angkutan laut dalam negeri Kaltim. Disusul Pelabuhan Sangkulirang dengan 1.669,47 ribu ton (17,79 persen), dan Pelabuhan Tanjung Redeb dengan 1.577,52 ribu ton (16,81 persen).
Pelabuhan lainnya yang berkontribusi cukup besar adalah Tanah Grogot sebanyak 1.195,68 ribu ton (12,74 persen) dan Sangatta 1.050,08 ribu ton (11,19 persen). Sementara pelabuhan dengan volume lebih kecil antara lain Bontang (438,14 ribu ton), Tanjung Santan (102,76 ribu ton), Samarinda (54,67 ribu ton), Semayang (13,85 ribu ton), dan Kariangau (9,29 ribu ton).
Secara kumulatif, total barang yang diangkut melalui laut pada Januari-September 2025 mencapai 79.520,55 ribu ton, atau turun 0,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Menurut Ysuniar, meski secara tahunan terjadi sedikit penurunan, fluktuasi ini masih dalam kisaran normal. Dia menilai aktivitas logistik laut di Kaltim relatif stabil dan terus bergerak seiring dengan perbaikan permintaan domestik serta distribusi antarwilayah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo