KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Gerakan “Satu Keluarga Satu Kilogram Emas” menjadi gagasan besar yang kini tengah didorong oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui kampanye ini, BSI ingin membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki logam mulia sebagai tabungan masa depan dan pelindung nilai ekonomi keluarga.
Bagi BSI, emas bukan sekadar barang berharga, tetapi simbol ketahanan finansial jangka panjang. Setiap keluarga yang mampu memiliki satu kilogram emas dianggap lebih siap menghadapi gejolak ekonomi dan inflasi yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam kunjungan rombongan BSI ke Gedung Biru Kaltim Post, Rabu (12/11), yang dipimpin oleh Funding & Transaction Business Deputy RO IX Kalimantan Nugroho Agung Dewanto.
Pertemuan yang berlangsung hangat di ruang rapat lantai 3 Gedung Biru itu menghadirkan diskusi menarik tentang peran BSI dalam memperluas akses investasi syariah, khususnya lewat bullion bank.
“Kami sedang fokus mendorong masyarakat agar sadar pentingnya memiliki emas. Harapan kami sederhana, setiap keluarga Indonesia bisa punya satu kilogram emas sebagai pegangan di masa depan,” ucap Agung.
“Karena emas bukan hanya investasi, tapi alat perlindungan nilai ekonomi keluarga agar tidak tergerus inflasi," timpalnya.
Melalui bullion bank, BSI berupaya mengubah cara pandang masyarakat dengan menghadirkan platform investasi yang mudah, aman, dan sesuai prinsip syariah. Tabungan emas ini bahkan bisa diakses melalui aplikasi BSI Mobile atau Byond, yang memungkinkan masyarakat membeli emas mulai dari nominal kecil, bahkan hanya Rp 50.000 atau Rp 100.000.
Dengan sistem cicilan ringan dan bukti kepemilikan fisik yang nyata, BSI membuka jalan bagi siapa pun untuk mulai berinvestasi tanpa harus menunggu memiliki modal besar. “Selama ini banyak yang mengira investasi emas itu butuh uang jutaan rupiah.
Padahal di BSI, masyarakat bisa mulai dari puluhan ribu. Perlahan-lahan bisa terkumpul satu gram, lima gram, bahkan satu kilogram,” jelas Agung.
Secara nasional, BSI dan Pegadaian menjadi dua lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk mengembangkan program bullion bank sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan finansial masyarakat Indonesia. Beberapa bank lain, seperti BRI, juga telah menjalin kolaborasi dengan Pegadaian melalui layanan investasi emas di aplikasi BRIMO.
Dengan peningkatan kepemilikan emas masyarakat hingga 10 persen pada 2025 dan kapasitas pengelolaan emas mencapai 20 ton per tahun, BSI optimistis gerakan ini akan menjadi tonggak baru dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Gerakan “Satu Keluarga Satu Kilogram Emas” bukan hanya kampanye investasi, tetapi ajakan moral untuk membangun masa depan yang lebih kokoh.
Melalui satu gram demi satu gram emas yang disimpan, BSI ingin mengajarkan bahwa kesejahteraan bukan sekadar angka di rekening, melainkan hasil dari kebiasaan menabung, kesabaran berinvestasi, dan komitmen menjaga nilai dalam bingkai syariah.
"Di tengah fluktuasi ekonomi global, kami ingin meningkatkan literasi masyarakat akan pentingnya investasi, dan emas bukan hanya simbol kemewahan, melainkan fondasi ketahanan ekonomi umat," jelasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo