KALTIMPOST.ID-Arah perdagangan luar negeri Balikpapan pada September 2025 tampak melemah.
Di tengah tekanan ekonomi global dan turunnya permintaan dari sejumlah negara tujuan utama, nilai ekspor kota minyak itu anjlok.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan, nilai ekspor pada bulan tersebut hanya mencapai USD 384,89 juta, turun 23,45 persen dibandingkan Agustus 2025 yang masih sebesar USD 502,80 juta.
Penurunan terbesar berasal dari ekspor nonmigas yang turun 24,97 persen menjadi USD 354,35 juta.
“Faktor paling dominan adalah penurunan di sektor industri pengolahan. Sektor ini turun lebih dari separuh, yaitu 51,58 persen, dari USD 255,58 juta menjadi hanya USD 216,05 juta,” ungkap Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.
Ia menjelaskan, penurunan itu menunjukkan tekanan pada kegiatan industri, terutama akibat permintaan ekspor yang melambat dan harga komoditas yang berfluktuasi di pasar global.
“Industri pengolahan selama ini menjadi penyumbang utama ekspor nonmigas Balikpapan. Saat sektor ini melemah, dampaknya langsung terasa pada total ekspor kota,” kata Marinda.
Secara tahunan, kinerja ekspor Balikpapan juga belum menunjukkan pemulihan. Nilai ekspor September 2025 tercatat turun 18,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari USD 474,66 juta menjadi USD 384,89 juta.
Secara kumulatif, ekspor Januari–September 2025 mencapai USD 4.194,25 juta, lebih rendah 6,67 persen dibandingkan tahun lalu yang sebesar USD 4.472,31 juta.
Penurunan juga terlihat di sektor tambang yang turun 10,55 persen menjadi USD 191,14 juta, dan pertanian yang merosot drastis hingga 87,15 persen.
“Sektor pertanian memiliki skala ekspor kecil, namun penurunan ekstrem ini tetap menjadi catatan penting karena menunjukkan lemahnya diversifikasi komoditas ekspor kita,” tambahnya.
Sementara itu, jika dilihat dari negara tujuan, ekspor Balikpapan ke Tiongkok mengalami penurunan paling tajam, yakni sebesar USD 39,26 juta atau 20,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Filipina menjadi satu-satunya pasar utama yang menunjukkan peningkatan signifikan, naik USD 20,10 juta atau 22,66 persen.
Malaysia dan Korea Selatan juga mencatat kenaikan masing-masing sebesar USD 17,21 juta dan USD 17,68 juta.
Sepanjang Januari–September 2025, total ekspor ke negara tujuan utama masih turun 6,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Filipina dan Pakistan menjadi dua pasar terbesar bagi ekspor Balikpapan dengan nilai masing-masing USD 145,48 juta (17,71 persen) dan USD 130,78 juta (60,03 persen).
Marinda menilai tren penurunan ekspor ini menjadi sinyal perlunya strategi diversifikasi pasar dan produk.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada komoditas industri dan tambang. Diperlukan pengembangan produk hilir serta pembukaan pasar baru di luar mitra tradisional,” tegasnya.
Ia optimistis, peluang pemulihan masih terbuka pada akhir 2025. “Ada tanda-tanda peningkatan permintaan dari beberapa negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia. Bila tren ini berlanjut, kita berharap ekspor Balikpapan bisa kembali tumbuh positif pada kuartal keempat,” pungkas Marinda. (rd)
ULIL MUAWANAH
Editor : Romdani.