KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Satu lagi bukti bahwa untuk meraih kesuksesan tidak mesti memiliki latar pendidikan yang linier. Seperti ditunjukkan Royani Muksin. Ditunjang pendidikan human resource management dan IT, dia justru besar di dunia kebugaran.
Garasi rumah di Jalan Marsha A Saleh, Gang 5 Blok A No 108 itu tak lagi dipenuhi mobil atau kendaraan lain. Ruangan itu kini disulap menjadi studio pilates bernuansa hangat. Begitu melangkah masuk, di sisi kanan tampak deretan cermin besar yang memantulkan gerakan tubuh para peserta latihan.
Di sisi kiri, belasan bingkai berisi sertifikat pelatihan pilates dan wellness milik Royani Muksin tertata rapi di dinding, sebagai bukti perjalanan panjangnya menekuni dunia kebugaran dan holistik. Beberapa peralatan pilates berukuran kecil hingga besar tampak tersusun berbaris, mulai reformer, cadillac, chair, ladder barrel, hingga spinal corrector.
Warna ruangan didominasi nuansa bumi berpalet ivory menyerupai gading gajah, memberi kesan tenang dan elegan. Di beberapa sudut, tanaman hias berdaun hijau muda menghadirkan sentuhan segar yang menyejukkan pandangan. Atmosfer ruangannya sejuk dan hangat, seperti ingin memeluk siapa saja yang datang.
Di ruang yang nyaman itu, terdengar napas teratur berpadu dengan dentingan pegas logam. Royani berdiri di tengah, memandu kliennya mengikuti ritme gerak tubuh dengan penuh kesadaran. Dari ruang kecil yang dulu hanya garasi, lahirlah Gaia Pilates Studio.
Perempuan yang karib disapa Annie itu tak menyangka akan berkarier di dunia kebugaran. “Yang saya tekuni di awal bukan pilates. Saya mulai dari meditasi, Reiki, dan Yin Yoga,” ungkapnya. Ia baru menekuni pilates secara profesional pada 2022, setelah lebih dari dua tahun menggeluti dunia wellness dan penyembuhan melalui energi.
Kecintaannya pada pilates sudah tumbuh sejak 2012, saat ia masih tinggal di luar negeri. Annie sempat menetap di Amerika Serikat dan Malaysia selama total sebelas tahun. “Pertama kali coba pilates di Amerika, hanya satu-dua kali. Tapi sejak itu saya jatuh cinta. Saat kembali ke Indonesia, saya rutin latihan di Bali,” kenangnya.
Dari sekadar hobi, Annie kemudian tertarik mengikuti berbagai pelatihan resmi untuk memperdalam pengetahuannya. Ia mengantongi sertifikasi mat, reformer, chair, cadillac, ladder barrel, hingga spinal corrector pilates. Tak berhenti di situ, ia juga mengikuti workshop khusus untuk skoliosis, kehamilan, dan postpartum.
“Paling banyak di 2023 dan 2024. Harusnya saya juga lanjut ke Korea Oktober ini, tapi visanya ditolak,” ungkapnya. Resmi berdiri pada Januari 2024, Gaia Pilates Studio langsung menarik perhatian.
Konsepnya bukan kelas besar seperti di pusat kebugaran, tapi sesi private dengan jadwal fleksibel. “Saya hanya ambil maksimal lima kelas per hari supaya tetap fokus,” katanya. Dalam seminggu, total ada sekitar 25 sesi latihan.
Respons masyarakat Samarinda pun positif. Banyak ibu rumah tangga dan pemilik usaha yang memilih kelas privat karena suasana lebih tenang. “Klien saya kebanyakan loyal, sudah ikut dari awal buka sampai sekarang,” ujarnya.
Dia menyebut, saat ini banyak masuk waiting list hingga Januari 2026. Terkait banyaknya minta untuk kelas pilates ini, Annie merencanakan menambah instruktur selain dirinya.
Untuk satu sesi private, biaya yang dikenakan Rp 650 ribu. Namun bagi yang mengambil paket 10 kali, harga menjadi Rp 5,5 juta. “Pilates itu hasilnya terasa kalau rutin. Jadi paket membantu mereka lebih konsisten,” jelasnya.
Meski berlatar pendidikan Human Resource Management dan IT, Annie merasa dunia kebugaran adalah panggilan jiwanya. “Semuanya tetap tentang manusia dan keseimbangan diri,” tuturnya.
Bagi Dia, Gaia Pilates bukan sekadar bisnis. Ini adalah ruang untuk menumbuhkan kesadaran akan tubuh. “Pilates bukan cuma soal fisik, tapi tentang bagaimana kita bergerak dengan sadar,” ucapnya. Ia berharap makin banyak warga Samarinda mengenal pilates bukan sebagai tren, tapi gaya hidup. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo