KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tren pembayaran non tunai kembali menunjukkan pola yang kontras di Kalimantan Timur. Nilai transaksi kartu ATM/Debit masih tumbuh, namun frekuensi penggunaannya menurun cukup dalam pada triwulan II-2025. Data Bank Indonesia mencatat, masyarakat mulai menggeser pola penggunaan instrumen pembayaran ritel.
“Transaksi kartu ATM/Debit mengalami pertumbuhan positif dari sisi nominal, namun mengalami kontraksi dari sisi volume,” ujar Kepala Kantor Perwakilan (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto.
Perlambatan juga terlihat ketika data triwulanan dibandingkan. “Pada triwulan-II 2025, nominal transaksi kartu ATM/Debit masih tumbuh positif 2,18 persen (yoy), meski melambat dibandingkan dengan triwulan I-2025 yang tumbuh 7,19 persen (yoy)," lanjutnya.
Secara keseluruhan, nilai transaksi ATM/Debit pada triwulan II-2025 mencapai Rp41,09 triliun, turun jika dibandingkan dengan triwulan-I 2024 yang berada pada Rp43,21 triliun.
Namun, arah berbeda terlihat pada jumlah transaksinya. “Volume transaksi kartu ATM/Debit mengalami kontraksi 3,26 persen (yoy), atau menurun dibandingkan dengan triwulan II-2025 yang tumbuh 7,28 persen (yoy)," jelas Budi.
Sepanjang triwulan II-2025, volume transaksi tercatat 31,41 juta transaksi, turun dari triwulan I-2025 yang mencapai 35,05 juta transaksi.
Dari sisi spasial, dominasi transaksi masih berada di kota besar. Berdasarkan nilai transaksi, Samarinda dan Bontang sama-sama mencatat porsi 26 persen. Di bawahnya terdapat Kutai Barat dan Paser, masing-masing 12 persen.
Dari sisi volume, Samarinda memimpin pergerakan transaksi dengan porsi 30 persen, disusul Bontang 28 persen. Paser mencatat 10 persen, sementara Kutai Barat 9 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa meski debit tetap populer, frekuensi penggunaannya menurun. Pola ini selaras dengan tren nasional, di mana instrumen digital seperti QRIS dan uang elektronik semakin menggeser transaksi berbasis kartu. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo