Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Eksistensi Lilis Batik: Menjaga Tradisi, Ciptakan Inovasi di Rumah Sendiri

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 22 November 2025 | 15:10 WIB
KOLABORASI: Lilis juga tak menutup pintu kerja sama. Dia berkolaborasi dengan berbagai desainer untuk mengenalkan karya lebih luas.
KOLABORASI: Lilis juga tak menutup pintu kerja sama. Dia berkolaborasi dengan berbagai desainer untuk mengenalkan karya lebih luas.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Dari rumah sederhananya sekaligus tempat lahirnya kain-kain batik tulis di Samarinda, Lilis Suryani tak sekadar membatik. Dia sedang menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan inovasi.

Sejak mendirikan Lilis Batik pada 2014, dia terus berkarya, bereksperimen dan menularkan semangatnya kepada pembatik lain di Kaltim. Dengan pengalaman 22 tahun belajar membatik di perusahaan kenamaan Batik Kaltim Mitaka tempo dulu, dia mulai membangun usahanya dari nol.

Bermodalkan keahlian membatik tulis dan jaringan lama, Lilis mulai ikut pelatihan desain yang digelar dinas terkait. “Saya belajar menata pola, menempatkan motif agar pas di depan dan belakang kain. Supaya ketika kain itu dijahit jadi baju, motifnya tetap cantik,” sebut perempuan kelahiran 1969 itu.

Kini, Lilis Batik dikenal sebagai salah satu UMKM binaan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dan Bank Indonesia. Dia mengaku awalnya hanya bekerja sendiri. Namun lambat laun, mantan rekan-rekannya dari Mitaka ikut bergabung. “Sekarang ada tiga orang yang bantu nyanting. Mereka juga dulunya pembatik Mitaka,” jelasnya.

Batik buatannya dikerjakan sepenuhnya dengan teknik tulis. Prosesnya bisa memakan waktu 10-15 hari untuk satu kain, tergantung motif dan tingkat kerumitan, serta bergantung jenis pewarna yang dipakai. “Kalau motif rapat dan banyak warna, bisa lebih lama,” katanya. Harga kain batiknya kini dibanderol mulai Rp500 ribu hingga Rp3 juta.

Lilis juga menggunakan pewarna alam. Dia mulai melirik pewarna alam semenjak mendapat pelatihan dari Bank Indonesia Kaltim. “Sekarang saya banyak pakai serutan kayu ulin, daun ketapang, kayu tinggi, kulit bawang merah, sampai indigofera untuk menghidupkan warnanya. Cantik sekali hasilnya,” ujarnya bangga.

Meski warna alam tergolong sulit dan tak bisa diseragamkan, justru di situlah keunikan batiknya. “Tergantung cuaca. Kadang nyelupnya lima kali, kadang tujuh kali. Tapi hasilnya lebih alami dan elegan,” katanya.

Produk batiknya kini sudah menembus pasar luar Kaltim. “Dulu pernah ikut sistem lelang JKN, sepuluh lembar langsung habis,” ucapnya. Tak hanya lewat pameran, pembelinya juga datang langsung ke rumah atau galeri binaan PKT di Balikpapan.

Meski banyak pembatik lain yang sempat berhenti, Lilis tetap teguh. “Yang lain banyak ganti profesi, tapi saya tetap lanjut karena ini hobi dan sudah jadi bagian hidup saya,” katanya tegas.

Lebih dari sekadar usaha, bagi Lilis membatik adalah bentuk cinta terhadap budaya lokal. Apa yang dia lakoni dijalani sepenuh hati. Ke depan, dia memang bercita-cita ingin memiliki galeri dan workshop khusus.

“Intinya untuk sekarang tetap jaga kualitas. Alhamdulillah sudah semakin dikenal orang karya saya. Normalnya itu pesanan dalam sebulan 5-7 potong kain. Sampai pernah dapat orderan 80 kain,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Lilis Batik #membatik #batik tulis #samarinda