KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kinerja subsektor pertanian di Kaltim kembali menunjukkan fluktuasi tajam pada Oktober 2025. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana menyampaikan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) beberapa subsektor mengalami penurunan, sementara perkebunan justru mencatat penguatan signifikan.
Yusniar menjelaskan, NTP Tanaman Pangan (NTPP) Oktober 2025 yakni 103,48 atau mengalami penurunan sebesar 1,02 persen terhadap bulan sebelumnya. "Dipengaruhi turunnya It (indeks harga yang diterima petani) 0,95 persen dan naiknya Ib (indeks harga yang dibayar petani) 0,07 persen. Pada kelompok padi, It turun 1,29 persen, sementara palawija naik 0,12 persen," ungkapnya.
Subsektor hortikultura juga melandai. “NTPH Oktober 2025 sebesar 108,16 atau mengalami penurunan 2,86 persen terhadap bulan sebelumnya,” ujarnya. Kelompok sayuran anjlok 5,86 persen, tanaman obat turun 1,74 persen, sementara buah-buahan naik 0,62 persen. Di sisi pengeluaran, Ib tercatat stabil.
Baca Juga: Modus Penipuan Keuangan Lewat WA dan Arisan Meluas, OJK–Satgas Pasti Gerak Cepat Blokir Dana
Sebaliknya, perkebunan rakyat justru menjadi subsektor paling tangguh. “NTPR Oktober 2025 yaitu 213,40 atau mengalami kenaikan 3,70 persen terhadap bulan sebelumnya,” kata Yusniar. Peningkatan sejalan dengan It yang naik 3,85 persen, sedangkan Ib hanya naik 0,15 persen, menjadikan NTPR tertinggi di antara subsektor lain.
Peternakan masih terkoreksi. “NTPT Oktober 2025 yaitu 107,95 atau mengalami penurunan 0,70 persen,” tutur Yusniar. Penurunan It terjadi di kelompok unggas (turun 0,75 persen), ternak besar (turun 0,71 persen), dan ternak kecil (turun 0,20 persen). Kelompok hasil-hasil ternak menjadi satu-satunya yang naik 0,36 persen.
Sementara itu, nelayan sedikit bernapas lega. Sebab NTNP Oktober 2025 senilai 102,85 atau mengalami kenaikan sebesar 0,68 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan It terutama didorong perikanan tangkap (naik 0,93 persen), meski budidaya turun 0,12 persen. Dari sisi pengeluaran, Ib turun 0,09 persen, memberi ruang lebih baik bagi pelaku perikanan. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki