KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Selain berstatus sebagai provinsi yang membuat okupansi perhotelan cukup stabil, Kota Tepian memiliki berbagai destinasi serta didukung oleh perusahaan-persahaan pertambangan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Sugianto mengakui, Samarinda menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibanding Balikpapan, terutama dalam menarik kunjungan akhir pekan, kegiatan pemerintah, dan mobilitas masyarakat.
“Samarinda saat ini sedikit lebih baik dari Balikpapan. Mereka banyak mendapatkan tambahan pengunjung dari daerah sekitar seperti Tenggarong, Bontang, dan Sangatta. Aktivitas pertambangan batu bara di wilayah itu sangat membantu pergerakan tamu hotel,” ucapnya.
Selain itu, dirinya berujar, perkembangan sektor kuliner dan pusat perbelanjaan di Samarinda membuatnya semakin kompetitif. “Sekarang mal dan kuliner di Samarinda sudah hampir setara dengan Balikpapan. Itu membuat masyarakat lebih tertarik datang ke sana, terutama di akhir pekan,” tambahnya.
Sementara itu, Balikpapan justru terdampak dari menurunnya aktivitas MICE, terbatasnya wilayah administratif, serta berkurangnya kegiatan pemerintah pusat. Dibanding kota besar lain, seperti Jakarta maupun Surabaya yang juga kota industri, Balikpapan dinilai tidak memiliki pasar kegiatan yang cukup luas.
“Surabaya bisa dapat tamu dari Jawa Timur, Jawa Tengah sampai Madura. Jakarta juga masih stabil karena jadi tujuan dari seluruh Indonesia. Balikpapan tidak punya jangkauan wilayah sebesar itu,” terangnya.
Ia juga menyoroti bahwa kota seperti Makassar dan Jogjakarta menghadapi tantangan serupa dengan Balikpapan karena sangat bergantung pada kegiatan pemerintah dan MICE. Dan Balikpapan disebut lebih rentan karena menurunnya aktivitas Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sebelumnya menjadi penopang utama permintaan hotel.
Menurutnya, pelemahan okupansi Balikpapan terlihat jelas sejak akhir 2024. Akupansi yang sempat mencapai 60 persen pada Oktober diperkirakan turun ke kisaran 50 persen pada November. Rata-rata tahunan berada di angka 40-an persen, dan pada 2025 diperkirakan tidak jauh berbeda.
“Kalau pemerintah pusat kembali sering menggelar kegiatan di Balikpapan, atau aktivitas IKN kembali tumbuh, dampaknya akan besar. Kami berharap ada dorongan lebih kuat untuk itu,” katanya.
PHRI menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku pariwisata, dan sektor swasta untuk memperkuat kembali daya saing Balikpapan agar tidak semakin tertinggal dari kota-kota lain di Kalimantan.
"Bali juga masih baik karena selain MICE, pariwisata mereka kuat dan tamu-tamu tidak hanya berasal dari dalam negeri, namun juga luar negeri. Promosi yang kuat serta didukung alamnya mauoun kegiatan lainnya, memang membuat beberapa destinasi tersebut masih memiliki tingkat okupansi yang masih baik," tandasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo