KALTIMPOST.ID-Diversifikasi ekonomi Kaltim semakin menemukan pijakannya. Setelah lama bergantung pada sektor migas dan batu bara, geliat ekspor berbasis produk non-migas kini mulai menunjukkan tren positif.
Itu terlihat dari semakin banyaknya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal yang sukses menembus pasar internasional.
Melalui pendampingan Export Center Balikpapan yang resmi beroperasi pada 1 Agustus 2025 lalu, ekspor berbagai komoditas seperti damar batu, produk kelautan, abon tuna, hingga cocopeat telah menandai kebangkitan pelaku usaha kecil di daerah. Capaian tersebut dinilai sebagai milestone penting bagi transformasi ekonomi Kaltim.
“Dari Agustus sampai November, hampir semua wilayah Kaltim telah mendapatkan sosialisasi bagaimana UMKM bisa masuk pasar ekspor. Alhamdulillah hasilnya mulai terlihat secara konkret,” terang Kepala Export Center Balikpapan Abdullah Umar.
Salah satu keberhasilan yang mendapat perhatian adalah ekspor perdana produk damar batu oleh PT Shifa Naghari Indonesia ke Sri Lanka sebanyak 28 ton, hasil kontrak dagang yang diteken bulan lalu.
Menurut Abdullah, capaian itu menjadi penanda bahwa UMKM Kaltim mampu bersaing secara global bila mendapatkan pendampingan yang tepat.
“Ini akan menjadi trigger bagi UMKM lain. Itu bukti bahwa Kaltim tidak hanya kuat di migas dan batu bara, tapi juga produk non-migas yang berbasis kreativitas dan potensi lokal,” tegasnya.
Sejauh ini, Export Center Balikpapan mencatat realisasi ekspor mencapai sekitar USD 3,12 juta dari berbagai komoditas unggulan.
Pendampingan telah diberikan kepada 240 UMKM, meliputi kurasi produk, pelatihan standar ekspor, serta fasilitasi perizinan.
Jaringan dagang juga diperluas lewat business matching dan pitching bersama perwakilan perdagangan luar negeri dari Sydney, Busan, hingga Belanda.
Sementara itu, geliat ekspor dari daerah lain juga mulai terlihat. UMKM dari Penajam Paser Utara (PPU) berhasil mengamankan kontrak pengiriman cocopeat ke Taiwan.
Dimulai satu kontainer percobaan dengan potensi permintaan mencapai lima kontainer per bulan.
Pelaku UMKM di Kukar juga telah menandatangani MoU untuk ekspor abon tuna ke Mesir. Sementara UMKM Samarinda mulai mengirim sampel produk ke Afrika.
Dengan momentum yang semakin kuat, pemerintah daerah dinilai perlu memperkuat ekosistem ekspor non-migas sebagai pilar ekonomi jangka panjang Kaltim.
“Kegiatan pelepasan ekspor ini bukan penutup, tapi awal dari percepatan ekspor Kaltim. Kita punya potensi besar, dan tugas kita adalah memastikan UMKM tidak berjalan sendiri,” ujar Abdullah.
Dengan hasil yang terus berkembang, penguatan sektor non-migas diprediksi akan menjadi arah strategis bagi stabilitas ekonomi Kaltim dalam beberapa tahun ke depan. (rd)
Editor : Romdani.