KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Upaya memperkuat inovasi kesehatan lokal kembali digaungkan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kalimantan Timur. Salah satu riset yang kini memasuki tahap lanjutan adalah pengembangan Haruan Oil Plus, produk berbahan dasar ekstrak ikan haruan yang dikemas dalam bentuk kapsul untuk mendukung pencegahan stunting.
Kepala Brida Kaltim Fitriansyah menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan kolaborasi dengan salah satu perguruan tinggi kesehatan di Samarinda. Dari penelitian tersebut, tim peneliti telah berhasil menghasilkan formula kapsul yang bahkan sudah dipublikasikan dalam jurnal internasional. “Tim peneliti sudah buat kapsulnya dari ikan Haruan, dicampur dengan beberapa bahan lainnya. Sudah menghasilkan jurnal internasionalnya juga,” ujar Fitriansyah dikonfirmasi, Minggu (30/11).
Namun, pengembangan produk ini menghadapi kendala teknis yang cukup mendasar: Kalimantan Timur belum memiliki pabrik farmasi untuk memproduksi kapsul secara massal. Kondisi itu membuat peneliti harus mengirim bahan baku ke Pulau Jawa agar dapat diproses menjadi kapsul siap konsumsi.
“Sekarang tahap kapsul sudah jadi, meskipun di Kaltim tidak punya pabrik obat. Itu yang kita sayangkan. Saya itu kalau bikin kapsul harus ke Jawa. Waktu itu biayanya lumayan mahal,” jelasnya.
Ia menambahkan, beberapa perguruan tinggi dan tenaga kefarmasian di Kaltim, telah lama berharap hadirnya pabrik obat di daerah tersebut. Selain menghemat biaya dan waktu produksi, fasilitas itu dinilai mampu mendorong pemanfaatan biodiversitas lokal secara lebih optimal. “Kita punya biodiversitas. Alam Kaltim kan kaya. Jika ada pabrik farmasi berbagai inovasi itu bisa kita buat di Kaltim, tidak usah ke Jawa,” tegasnya.
Saat ini, Haruan Oil Plus tengah memasuki proses perizinan edar di Balai POM. Jika izin diterbitkan, Brida Kaltim menegaskan bahwa tujuan utama produk ini bukan untuk dikomersialkan semata, tetapi diarahkan sebagai dukungan kesehatan masyarakat, khususnya ibu hamil. “Kalau itu sudah jadi, tugas kami sebenarnya bukan untuk menjual. Kami ingin itu bisa dibagikan ke misalnya ibu hamil, supaya terhindar dari anaknya bisa stunting,” ujarnya.
Brida berharap hadirnya inovasi ini dapat menjadi langkah konkret dalam menekan angka stunting di Kalimantan Timur, sekaligus membuka peluang investasi bagi industri farmasi lokal di masa mendatang. “Kami berharap ada perusahaan yang tertarik membangun pabrik farmasi di Kaltim. Sehingga berbagai penelitian bisa dikembangkan,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani