Hingga awal Desember, total pengadaan beras dari petani lokal menembus 9.500 ton, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Kanwil Bulog Kaltim–Kaltara Musazdin Said menuturkan, peningkatan serapan diikuti pengawasan kualitas yang lebih ketat. Standar yang ditetapkan Badan Pangan Nasional—seperti kadar air, tingkat butir patah, hingga kelayakan gabah—menjadi acuan utama sebelum beras masuk gudang.
“Kami pastikan kualitas terjaga. Parameter untuk beras medium sudah jelas dan wajib dipenuhi,” ujarnya dalam forum diskusi tentang ketahanan pangan Kaltim, Senin (1/12).
Untuk menopang pasokan di dua provinsi, Bulog kini mengelola 28.900 ton stok yang tersebar di 15 unit gudang di Samarinda, Berau, dan Paser (Kaltim) serta Tarakan dan Bulungan (Kaltara).
Stok tersebut disiapkan untuk kebutuhan reguler maupun cadangan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana atau situasi rawan pangan.
Penyaluran bantuan pangan sepanjang Oktober–November tercatat 2.450 ton, sementara beras SPHP terus digelontorkan untuk meredam kenaikan harga menjelang akhir tahun.
Khusus menghadapi Natal dan Tahun Baru (Nataru), Bulog memproyeksikan distribusi tambahan sekitar 14.000 ton hingga Desember.
Dengan perhitungan itu, Musazdin memastikan ketersediaan beras aman sampai panen raya tahun 2026. Selain beras medium SPHP, Bulog juga menyiapkan beras premium untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah.
“Prinsip Bulog tetap sama: ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilisasi harga. Masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie