Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kaltim dan Kaltara Kini Satu Sistem Kelistrikan, Buka Ruang Percepatan Investasi di Industri dan KEK

Ajie Chandra • Selasa, 2 Desember 2025 | 18:39 WIB
TAHAPAN: Petugas PLN UPP KLT 2 melakukan pemeriksaan peralatan di GI Tanjung Redeb sebagai bagian dari persiapan energize interkoneksi SUTT 150 kV.
TAHAPAN: Petugas PLN UPP KLT 2 melakukan pemeriksaan peralatan di GI Tanjung Redeb sebagai bagian dari persiapan energize interkoneksi SUTT 150 kV.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Transformasi energi Kalimantan kembali memasuki babak baru. Ini setelah PT PLN (Persero) berhasil menuntaskan pembangunan jaringan interkoneksi sistem kelistrikan Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara).

Infrastruktur energi ini dinilai strategis dan memperkuat ketahanan energi, meningkatkan efisiensi sistem serta membuka ruang percepatan investasi di sektor industri, kawasan ekonomi khusus (KEK), hingga daerah terluar.

Megaproyek yang dibangun melalui PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT) ini menjadi salah satu tonggak penting dalam roadmap sistem tenaga listrik Kalimantan.

Jaringan sepanjang 921,71 kilometer sirkuit yang ditopang 1.279 tower tersebut kini menghubungkan pusat-pusat beban dari Kutai Timur, Berau, Bulungan hingga Tana Tidung.

“Diharapkan bisa menghadirkan suplai listrik dengan tingkat stabilitas lebih tinggi dan volatilitas gangguan lebih rendah. Interkoneksi ini memastikan pasokan listrik tidak hanya tersedia, tetapi andal, efisien dan siap mendukung kebutuhan industri serta masyarakat,” ujar General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, Selasa (2/12).

“Dengan sistem yang terhubung, cadangan daya dapat dimanfaatkan lintas wilayah dan menciptakan fleksibilitas pasokan yang sebelumnya belum dimungkinkan,” katanya. Selain memperkuat distribusi listrik, penyelesaian jaringan ini menjadi fondasi bagi percepatan transisi energi Kalimantan.

Pasokan dari pembangkit berbasis energi baru terbarukan seperti PLTA Kayan dan PLTA Ujung Bilah dapat terdistribusi lebih optimal, sejalan dengan target bauran energi bersih nasional.

Konektivitas ini juga diharapkan menjadi katalis pertumbuhan KEK Maloy, kawasan industri mineral, smelter, pelabuhan logistik, hingga pengembangan ibu kota baru dengan kebutuhan listrik besar dan stabil.

Untuk memastikan keandalan operasi, sistem interkoneksi dilengkapi teknologi berbasis kontrol digital, sensor real-time, serta jaringan fiber optik yang terintegrasi dengan pusat kendali energi.

Lima titik lokasi pengatur daya di Maloy, Talisayan, Berau, Tanjung Selor, dan Tidang Pale berperan sebagai pusat manajemen beban yang memungkinkan penanganan gangguan dan pengalihan suplai secara cepat.

Infrastruktur ini juga sudah disiapkan untuk operasional berbasis 5G industrial automation, menjadikannya salah satu backbone modern jaringan listrik Kalimantan. Proyek ini dibangun melalui perencanaan multitahap, mulai survei, penyiapan lahan dan Right of Way (ROW), konstruksi, hingga sertifikasi SLO (Sertifikat Laik Operasi) sebelum serah terima kepada unit operasi PLN.

PLN menerapkan pendekatan tata kelola stakeholder dan sosial ekonomi berbasis pemetaan kekuatan (power), kepentingan (interest), dan legalitas (legitimacy). Pendekatan ini mencakup pemilik lahan, masyarakat adat, instansi pemerintah, hingga kelompok rentan agar pelaksanaan berjalan kondusif dan berkeadilan.

PLN menyebut bahwa penyelesaian interkoneksi Kaltim–Kaltara diyakini akan meningkatkan stabilitas sistem kelistrikan Kalimantan secara signifikan.

Melalui konektivitas ini, perusahaan memperkirakan adanya efisiensi biaya energi karena suplai daya dapat dioptimalkan antarwilayah. Selain itu, cadangan daya diproyeksikan semakin kuat untuk menopang pertumbuhan industri dan urbanisasi.

Peningkatan keandalan sistem interkoneksi kini tercermin dalam capaian operasional terbaru. Berdasarkan data pemantauan beban puncak Sistem Kaltim–Kaltara pada 25 November 2025 pukul 19.00 Wita, sistem mencatat kapasitas daya mampu netto sebesar 1.932,32 MW, dengan daya pasok mencapai 2.003,05 MW.

Dari total pasokan tersebut, beban yang telah terlayani berada pada angka 1.588,99 MW, sementara interkoneksi dengan Sistem Barito menambah suplai sebesar 36,00 MW.

Dengan kondisi tersebut, cadangan daya sistem mencapai 347,06 MW, atau setara dengan reserve margin 16 persen, sebuah indikator yang mencerminkan sistem berada dalam posisi aman untuk menopang permintaan listrik termasuk lonjakan beban musiman maupun ekspansi industri.

Jika dirinci per wilayah, Subsistem Kaltim memiliki pasokan sebesar 593,37 MW dengan beban terlayani 850,47 MW, sedangkan Subsistem Kaltara mencatat daya pasok 98,679 MW dengan beban terlayani 68,518 MW.

Rasio pasokan dan konsumsi ini menjadi salah satu bukti bahwa interkoneksi tidak hanya berfungsi menyebarkan beban secara lebih merata, namun juga menjadi mekanisme balancing supply yang sebelumnya tidak dimungkinkan saat sistem masih berdiri sendiri.

“Ini bukan sekadar proyek kelistrikan, ini infrastruktur ekonomi. Listrik andal membuka peluang tumbuhnya industri baru, mempercepat pembangunan daerah, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Dengan rampungnya interkoneksi ini, PLN menegaskan kehadirannya bukan hanya sebagai penyedia energi, tetapi sebagai aktor strategis pembangunan ekonomi Kalimantan yang tengah bergerak menuju ekosistem industri modern dan energi hijau. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#interkoneksi #sistem kelistrikan #pembangunan jaringan #kaltim #kaltara #pln