Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Indonesia Siapkan Fondasi CCS/CCUS Terdepan di Asia, SKK Migas Dorong Kolaborasi Industri

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 3 Desember 2025 | 16:24 WIB
PEMBUKTIAN: SKK Migas meraih gold rank pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025.
PEMBUKTIAN: SKK Migas meraih gold rank pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025.

BALIKPAPAN – Prestasi gold rank SKK Migas pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025 tidak hanya menegaskan kualitas laporan keberlanjutan lembaga tersebut.

Tetapi juga menunjukkan semakin seriusnya Indonesia membangun fondasi regulasi dan teknologi untuk pengembangan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) sebagai masa depan industri migas.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa keberlanjutan kini menjadi bagian strategis dalam menjaga daya saing industri hulu migas, terutama di tengah percepatan transisi energi global.

“Agenda keberlanjutan tetap menjadi bagian penting dari strategi kami, terutama untuk mendukung target net zero emission Indonesia,” ungkapnya, Rabu (3/12).

Indonesia disebut memiliki potensi penyimpanan karbon yang besar, yang dapat mendorong posisi Indonesia sebagai hub penyimpanan karbon kawasan. SKK Migas memastikan regulasi pendukungnya telah berkembang signifikan.

Djoko menjelaskan bahwa SKK Migas telah menerbitkan pedoman tata kerja (PTK) yang memberikan panduan komprehensif bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam merancang, mengeksekusi, hingga mengawasi proyek CCS/CCUS.

“PTK ini memastikan seluruh proyek CCS dan CCUS berjalan aman, akuntabel, serta selaras dengan standar internasional,” katanya.

Kesiapan regulasi ini menjadi modal penting untuk mempercepat investasi energi jangka panjang dan mendukung komitmen penurunan emisi nasional. Djoko menegaskan bahwa teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon bukan hal baru di Indonesia. Beberapa implementasi terbatas telah dijalankan pada masa lalu.

“CCUS telah diterapkan sebelumnya melalui EOR CO₂ flooding di Lapangan Sukowati dan untuk pressure maintenance di Lapangan Banyu Urip,” jelasnya. Saat ini, sejumlah proyek besar tengah disiapkan menuju tahap lanjutan, seperti proyek CCUS Ubadari di Tangguh, maupun pengembangan CCS/CCUS di Abadi Masela.

Keduanya diproyeksikan menjadi proyek rujukan CCS/CCUS terbesar di kawasan Asia Pasifik dalam beberapa tahun mendatang. Meski kesiapan regulasi dan teknologi terus berkembang, Djoko menekankan bahwa realisasi CCS/CCUS memerlukan keterlibatan lebih luas dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, investor, hingga lembaga penelitian.

“Industri hulu migas tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi seluruh pemangku kepentingan tetap menjadi kunci agar inisiatif CCS dan CCUS bisa terwujud,” tegasnya.

SKK Migas kembali meraih Gold Rank pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025. Penghargaan ini diberikan dalam kompetisi yang diikuti 82 organisasi dari Indonesia, Bangladesh, dan Filipina. SKK Migas menjadi salah satu peserta yang konsisten dan telah meraih Gold Rank sebanyak tujuh kali.

Pencapaian ini disebut menjadi dorongan bagi SKK Migas agar program transisi energi tidak berhenti pada komitmen. Upaya nyata seperti efisiensi energi, pengurangan emisi metana, dan zero flaring disebut terus berjalan dan diperluas.

"Dengan fondasi regulatif yang semakin kuat serta proyek CCS/CCUS yang kian matang, Indonesia berada pada momentum penting dalam penyimpanan karbon di era energi rendah emisi," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Gold Rank #laporan berkelanjutan #skk migas #ASRRAT