KALTIMPOST.ID-Perubahan dalam pola impor Kota Minyak terlihat jelas pada Oktober 2025, terutama dengan melonjaknya nilai impor dari Nigeria yang meningkat lebih dari dua kali lipat dalam sebulan. Kenaikan itu memberi dampak langsung pada peningkatan total impor kota.
Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan melaporkan bahwa nilai impor Oktober 2025 mencapai USD 442,67 juta, naik 13,98 persen dibandingkan September.
Peningkatan itu terjadi karena impor migas naik dari USD 338,57 juta menjadi USD 387,27 juta, dan impor non-migas meningkat dari USD 49,81 juta menjadi USD 55,40 juta.
“Impor migas kembali naik cukup signifikan, dan kenaikan terbesar datang dari Nigeria yang kini menjadi pemasok minyak mentah utama bagi Balikpapan,” ucap Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.
Dia berujar, lonjakan itu selaras dengan keperluan energi dan aktivitas kilang setempat. Impor dari Nigeria pada Oktober naik besar menjadi USD 74,56 juta, atau meningkat 115,96 persen dari bulan sebelumnya.
Negara tersebut juga tercatat sebagai pemasok terbesar sepanjang Januari hingga Oktober 2025 dengan total nilai USD 829,60 juta, memberikan kontribusi 23,21 persen terhadap keseluruhan impor.
Meski tercatat naik secara bulanan, secara tahunan nilai impor Oktober 2025 justru turun tajam.
Jika dibandingkan Oktober 2024 yang mencapai 683,33 juta dolar, impor tahun ini turun 35,22 persen.
Penurunan tersebut disebabkan merosotnya impor hasil minyak hingga 50,72 persen dan turunnya impor minyak mentah sebesar 20,99 persen.
Selain Nigeria, kenaikan impor pada Oktober 2025 juga didorong oleh peningkatan dari Angola yang naik menjadi USD 64,29 juta, serta Malaysia yang mencatat lonjakan ekstrem sebesar 1.359,67 persen atau bertambah USD 13,75 juta dalam sebulan.
Menurutnya, pergerakan impor itu menggambarkan dinamika keperluan energi dan bahan baku industri.
Dengan memasuki akhir tahun, impor Balikpapan diperkirakan tetap bergerak mengikuti pola konsumsi energi dan perubahan harga minyak dunia.
Marinda menilai bahwa sensitivitas impor terhadap kondisi global akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
“Fluktuasi impor sejalan dengan ritme operasional kilang dan keperluan distribusi migas. Namun penurunan dalam hitungan tahunan menunjukkan adanya efisiensi dan penyesuaian kebutuhan industri,” jelasnya. (rd)
ULIL MUAWANAH
Editor : Romdani.