KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kalangan industri di Kalimantan Timur mencatat pergerakan signifikan pada pasokan bahan dan peralatan impor.
Perubahan ini terlihat dari nilai impor nonmigas yang melonjak di beberapa negara utama, memicu dinamika pasar yang cukup tajam.
Peningkatan signifikan terjadi pada Oktober 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan, nilai impor nonmigas dari 13 negara utama menembus USD63,18 juta, naik 29,39 persen dibanding bulan sebelumnya.
Baca Juga: Awas Terjebak! Ini Tanggal Puncak Macet Nataru 2025/2026 yang Wajib Anda Hindari
Lonjakan ini dipicu masuknya kembali pasokan dari sejumlah negara yang sebelumnya tidak melakukan pengiriman.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menilai tren ini menunjukkan kebutuhan bahan penunjang industri di daerah cukup dinamis.
“Pergerakan impor bulan Oktober dipengaruhi peningkatan nilai dari beberapa negara yang sebelumnya tidak melakukan impor pada September,” ujarnya.
Negara-negara yang mencatat kenaikan tertinggi adalah Rusia, Laos, dan Tiongkok. Dua di antaranya sebelumnya sama sekali tidak mengekspor ke Kaltim pada bulan sebelumnya.
Meski demikian, secara akumulasi Januari–Oktober 2025, struktur impor nonmigas masih didominasi oleh negara besar.
Tiongkok tetap berada di posisi teratas dengan kontribusi mencapai USD336,51 juta, atau hampir 35 persen dari total impor nonmigas Kaltim. Disusul Jerman dengan 9,09 persen dan Amerika Serikat 8,22 persen.
Menurut Yusniar, komposisi ini memperlihatkan ketergantungan kuat terhadap pemasok mesin, peralatan, dan produk industri manufaktur. “Peranan negara asal barang masih didominasi oleh Tiongkok, diikuti Jerman dan Amerika Serikat,” jelasnya.
Jika ditinjau berdasarkan kawasan, impor dari ASEAN tercatat USD122,37 juta, sekitar 12,66 persen dari total. Sementara Uni Eropa menyumbang USD236,37 juta atau 24,45 persen.
Pola ini menegaskan bahwa Kaltim tetap terhubung dengan rantai pasok regional dan global, meski ada dominasi dari beberapa negara tertentu.
Secara total, nilai impor nonmigas Oktober 2025 mencapai USD77,89 juta. Meski mengalami kenaikan bulanan, secara kumulatif Januari–Oktober, nilai impor nonmigas tetap lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu. (*)
Editor : Ery Supriyadi