Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Rata-rata Lama Menginap Tamu Hotel di Balikpapan Turun di Oktober 2025, Kenapa Ya?

Ulil Mu'Awanah • Minggu, 7 Desember 2025 | 17:12 WIB
Rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang mengalami penurunan, yang menjadi sinyal terjadinya perubahan pola perjalanan baik dari wisatawan maupun pelaku bisnis.
Rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang mengalami penurunan, yang menjadi sinyal terjadinya perubahan pola perjalanan baik dari wisatawan maupun pelaku bisnis.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Gerak industri akomodasi Balikpapan pada Oktober 2025 tidak hanya dipengaruhi tingkat penghunian kamar, tetapi juga perubahan durasi tinggal tamu.

Rata-rata lama menginap pun di hotel berbintang mengalami penurunan, yang menjadi sinyal terjadinya perubahan pola perjalanan baik dari wisatawan maupun pelaku bisnis.

Selama Oktober 2025, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama. mengatakan, rata-rata lama menginap (RLM) tercatat 1,63 hari, turun dibanding September yang berada di angka 1,67 hari.

Penurunan 0,05 poin ini menunjukkan bahwa banyak tamu yang melakukan perjalanan singkat, khususnya untuk keperluan kerja atau transit.

“Penurunan rata-rata lama menginap ini mengindikasikan adanya pergeseran pola kunjungan. Tamu datang untuk kegiatan yang sifatnya lebih ringkas, tanpa banyak agenda tambahan,” terangnya.

Dari sisi segmentasi tamu, RLM tamu asing turun dari 2,60 hari pada September menjadi 2,34 hari di Oktober 2025. Sementara itu, tamu nusantara juga mengalami penurunan dari 1,66 hari menjadi 1,62 hari pada periode yang sama.

Bila dibandingkan Oktober 2024, angka ini bahkan turun lebih tajam, yaitu 0,15 poin untuk total tamu. Pola ini memperlihatkan perlambatan aktivitas yang berdampak pada lama tinggal, terutama di sektor yang biasanya menyumbang durasi lebih panjang seperti bisnis migas atau proyek konstruksi skala besar.

Selain itu, penurunan durasi menginap juga terjadi karena meningkatnya tren perjalanan cepat dan efisiensi biaya perjalanan dari perusahaan.

Menurut Marinda, perubahan ini perlu menjadi perhatian pelaku industri akomodasi. “Hotel perlu beradaptasi dengan menawarkan paket singkat, layanan fleksibel, dan pengalaman yang lebih personal. Tamu yang tinggal lebih singkat tetap bisa memberikan kontribusi optimal bila hotel mampu menangkap kebutuhan mereka,” jelasnya.

Tren menurunnya durasi tinggal juga memengaruhi strategi pemasaran hotel, terutama menjelang periode libur akhir tahun. Dengan meningkatnya kompetisi regional dan perubahan karakter wisata, hotel dituntut menyiapkan promosi yang lebih agresif untuk meningkatkan lama tinggal tamu domestik maupun asing.

"Meski demikian, pelaku industri optimistis bahwa momentum libur Natal dan Tahun Baru dapat kembali mendorong perpanjangan rata-rata lama menginap, terutama dari wisatawan keluarga dan pelaku perjalanan leisure," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#wisatawan #lama menginap #tamu #pola perjalanan wisata #hotel #balikpapan