KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di tengah pertumbuhan ekonomi Kaltim yang positif pada Triwulan III-2025, sebuah dinamika menarik muncul: ketimpangan pertumbuhan antar kabupaten/kota semakin terlihat.
Kabupaten Paser mencatat pertumbuhan y-on-y tertinggi sebesar 8,72 persen, sementara Balikpapan dan Kutai Barat juga mencatatkan performa kuat. Sebaliknya, Bontang dan Kutai Kartanegara mengalami kontraksi qtoq.
Di antara seluruh daerah, Balikpapan kembali menjadi penggerak utama dengan pertumbuhan yoy tertinggi di Kaltim, yaitu 9,32 persen.
Kutai Barat tumbuh 6,63 persen, disusul Samarinda 5,64 persen. Namun kontraksi cukup dalam terjadi di Kutai Kartanegara (-0,17 persen), Kutai Timur (-0,54 persen), dan terutama Bontang (-2,35 persen) secara q-to-q.
Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan menilai bahwa ketimpangan ini mencerminkan perbedaan struktur ekonomi antarwilayah.
“Kota Balikpapan ditopang oleh sektor industri dan jasa modern, sementara beberapa daerah lain sangat bergantung pada sektor komoditas yang fluktuatif,” ucap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan Marinda Dama.
Gambaran distribusi ekonomi Kaltim juga menegaskan dominasi wilayah-wilayah tertentu. Kutai Kartanegara menyumbang 23,52 persen perekonomian provinsi, diikuti Kutai Timur 16,67 persen, dan Kota Balikpapan 19,20 persen. Samarinda berada di posisi keempat dengan kontribusi 12,23 persen.
Namun kinerja qtoq menunjukkan adanya tekanan pada daerah berbasis komoditas. Penurunan produksi pertambangan dan fluktuasi harga global membuat beberapa kabupaten/kota mengalami perlambatan.
Di sisi lain, Balikpapan tampak relatif lebih stabil karena kontribusi besar sektor sekunder dan tersier. Sementara Kutai Barat juga mempertahankan ekspansi 3,61 persen secara qtoq.
Ketimpangan ini akan menjadi isu strategis pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan 2026, terutama untuk mendorong pemerataan pertumbuhan di seluruh kabupaten/kota.
Menurut Marinda, arah pembangunan IKN akan memperlebar peran kota-kota penyangga seperti Balikpapan dan Penajam Paser Utara, yang perlahan membangun struktur ekonomi lebih variatif. “Transformasi ekonomi Kaltim sedang berjalan. Daerah dengan diversifikasi sektor dan dukungan infrastruktur akan tumbuh lebih kuat,” jelasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo