KALTIMPOST.ID-Kaltim dinilai memiliki potensi ekspor yang besar, terutama dari sektor industri pengolahan.
Namun potensi tersebut belum mampu termanfaatkan maksimal karena berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan bahan baku hingga tingginya biaya logistik akibat jalur ekspor yang masih terpusat di Pulau Jawa.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan Haemusri Umar, yang menegaskan bahwa biaya distribusi menjadi salah satu faktor utama yang menghambat daya saing produk Kaltim di pasar global.
“Selama ini kita dibebankan untuk masuk dari pintu Surabaya atau Jakarta. Otomatis ini menambah biaya dan ongkos distribusi untuk hasil olahan yang akan diekspor ke mancanegara,” kata Haemusri.
Meski Kaltim telah memiliki Terminal Peti Kemas (TPK) Kariangau, Balikpapan yang berstandar internasional, menurutnya, pemanfaatan untuk ekspor langsung masih sangat minim.
Padahal, KKT berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, yang semestinya dapat menjadi pintu keluar produk ekspor Kaltim ke berbagai negara tujuan seperti Tiongkok, Korea Selatan, hingga Sri Lanka.
“Kita mencoba merespons kondisi ini. Kaltim ‘kan sudah punya KKT, sebuah pelabuhan bertaraf internasional. Maka kami berharap pemerintah pusat membuka akses ekspor, bukan hanya lewat ALKI I di Sumatra, tapi juga melalui ALKI II lewat Balikpapan,” jelasnya.
Haemusri menilai bahwa optimalisasi ALKI II merupakan langkah strategis untuk memangkas biaya logistik secara signifikan.
Sebab, saat ini produk ekspor dari Kaltim harus dikirim ke Jakarta atau Surabaya lebih dulu sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.
“Kalau pintu ekspor dibuka dari Balikpapan, biayanya jauh lebih efisien. Produk olahan dari Kaltim bisa langsung ke negara tujuan tanpa harus lewat Jawa dulu,” tambahnya.
Ia menyoroti masih minimnya ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan di Kaltim.
Hal itu menyebabkan pelaku industri di wilayah tersebut kalah bersaing dengan Jawa yang memiliki pasokan bahan baku lebih stabil dan biaya logistik lebih murah.
Meski demikian, Haemusri melihat momentum baru dalam perkembangan sektor industri dan logistik Kaltim, terutama dengan keberadaan pelabuhan berstandar internasional di Makassar dan Balikpapan sebagai dua simpul utama di ALKI II.
“Di ALKI II ini hanya ada dua pelabuhan berstandar internasional, Makassar, dan Balikpapan. Jadi sebenarnya sangat potensial jika pemerintah pusat memberi ruang bagi ekspor dari sini,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah pusat segera mengambil inisiatif untuk menjadikan PT KKT sebagai salah satu pintu ekspor resmi melalui ALKI II.
Dengan begitu, alur distribusi barang dapat lebih terintegrasi, efisien, dan mampu meningkatkan daya saing industri Kaltim di pasar internasional. “Sehingga alur laut kawasan Indonesia ini bisa termanfaatkan dengan baik,” pungkasnya. (rd)
ULIL MUAWANAH
Editor : Romdani.