KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ketidakpastian pasar keuangan global kembali meningkat seiring terhentinya sementara aktivitas pemerintahan Amerika Serikat (AS) dan tertahannya penurunan suku bunga kebijakan moneter negara tersebut. Kondisi itu turut menekan stabilitas ekonomi global, meski prospek pertumbuhan dunia masih dinilai tetap positif.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menyampaikan bahwa temporary government shutdown terlama sepanjang sejarah di AS berdampak terhadap kondisi ketenagakerjaan serta meningkatkan tekanan di pasar keuangan global.
“Ketidakpastian pasar keuangan global diprakirakan kembali meningkat di tengah tertahannya penurunan suku bunga kebijakan moneter AS dan berhentinya sementara aktivitas pemerintahan AS,” ujar Budi, Rabu (17/12).
Selain AS, perlambatan ekonomi juga terjadi di sejumlah negara lain seperti Jepang, Tiongkok, dan India akibat permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih. Situasi tersebut mendorong pergeseran aliran modal global ke aset aman.
“Aliran modal global ke komoditas emas dan aset keuangan AS sebagai safe haven assets terus berlanjut, sehingga mendorong peningkatan harga emas dan penguatan dolar AS,” jelasnya.
Meski ketidakpastian global berpotensi menimbulkan efek rambatan ke berbagai negara, Bank Indonesia memprakirakan ekonomi dunia masih tetap tumbuh di kisaran 3,10 persen year on year (yoy). Prospek tersebut didukung oleh meredanya tensi geopolitik serta optimisme pemulihan permintaan global ke depan. (*)
Editor : Ismet Rifani