KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada 2025 diproyeksikan melambat. Penyebab utamanya adalah tertahannya permintaan ekspor, khususnya dari mitra dagang strategis.
Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Kaltim tetap tumbuh positif. Namun, pertumbuhannya berada di kisaran 4,30–5,10 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengatakan perlambatan ini terutama bersumber dari kinerja lapangan usaha pertambangan. Sektor batu bara menjadi faktor penekan utama.
Baca Juga: 37 Relawan Kaltim Diberangkatkan Bantu Penanganan Bencana di Aceh Tamiang
Menurut Budi, target produksi batu bara pada 2025 ditetapkan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berdampak langsung pada moderasi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Perlambatan pertumbuhan ekonomi Kaltim utamanya disebabkan oleh termoderasinya pertumbuhan lapangan usaha pertambangan yang tercermin dari target produksi batu bara 2025 yang lebih rendah,” ujarnya, medio Desember lalu.
Tekanan juga datang dari sisi eksternal. Permintaan batu bara dari Tiongkok dan India masih tertahan hingga kini.
Baca Juga: Nama Rita Widyasari Mencuat di Sidang Suap Izin Tambang Rudy Ong Chandra
Budi menjelaskan, perlambatan sektor manufaktur di Tiongkok akibat perang tarif dengan Amerika Serikat turut menekan kebutuhan energi. Sementara itu, India mendorong optimalisasi produksi batu bara domestik untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.
“Permintaan ekspor batu bara dari negara mitra strategis masih tertahan, terutama dari Tiongkok dan India,” katanya.
Selain faktor global, kebijakan di dalam negeri turut memberi pengaruh. Upaya optimalisasi produksi nasional serta transisi menuju energi terbarukan membuat kinerja sektor pertambangan tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya.
Meski demikian, permintaan domestik batu bara dinilai masih relatif kuat. Hal ini tercermin dari peningkatan target Domestic Market Obligation (DMO) batu bara 2025.
Kementerian ESDM menetapkan target DMO sebesar 239,7 juta ton. Angka tersebut naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 181,3 juta ton.
“Konsumsi listrik domestik yang masih tinggi menjadi penopang permintaan batu bara di dalam negeri,” jelas Budi.
Baca Juga: Berani Melintas? Menguak 3 Titik Paling Angker di Sekitar Kawasan IKN dan Kaltim
Namun, hingga triwulan III 2025, realisasi permintaan dari negara mitra dagang utama masih berada di bawah prakiraan awal. Kondisi itu membuat akselerasi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur belum sepenuhnya optimal. (*)
Editor : Ery Supriyadi