KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) meluncurkan buku berjudul Rekam Jejak Migas: Rangkaian Legacy SKK Migas–KKKS Wilayah Kalsul.
Peluncuran buku ini menjadi penanda perjalanan panjang industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di Kalsul. Tidak hanya dari sisi produksi energi, tetapi juga kontribusi sosial, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Buku tersebut memotret berbagai kisah lapangan, program pemberdayaan, hingga dampak keberadaan industri migas bagi daerah. Mulai pengembangan sumber daya manusia, dukungan terhadap pendidikan, hingga penguatan ekonomi lokal yang tumbuh beriringan dengan aktivitas hulu migas.
Dokumentasi ini disusun sebagai bentuk akuntabilitas sekaligus arsip sejarah peran migas di kawasan Kalimantan dan Sulawesi.
Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Azhari Idris, mengatakan peluncuran buku ini menjadi momentum refleksi sekaligus pengingat bahwa industri migas tidak berdiri sendiri sebagai penghasil energi, tetapi juga bagian dari pembangunan wilayah.
“Buku ini merekam jejak bagaimana industri hulu migas hadir, bekerja dan memberi manfaat bagi masyarakat Kalimantan dan Sulawesi. Ini bukan hanya soal angka produksi, tetapi juga tentang legacy yang ditinggalkan,” ucap Azhari.
Dalam kesempatan tersebut, Azhari memaparkan perkembangan sektor energi nasional, khususnya terkait posisi migas di tengah agenda besar transisi energi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT).
Ia menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong pengembangan EBT seperti tenaga surya, air, panas bumi, hingga angin. Namun di sisi lain, produksi energi fosil, terutama minyak dan gas bumi, masih harus berjalan untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat.
“Kita tahu energi baru terbarukan sedang dikembangkan oleh pemerintah. Tapi bersamaan dengan itu, kegiatan energi fosil juga tidak berhenti. Di Kalimantan dan Sulawesi, kami tetap menjalankan produksi minyak dan gas bumi sesuai arahan pemerintah,” jelas Azhari.
Menurutnya, data menunjukkan kebutuhan energi fosil masih sangat tinggi dan belum sepenuhnya dapat ditutupi oleh EBT. Karena itu, pemerintah menetapkan gas bumi sebagai energi transisi menuju EBT hingga sekitar tahun 2060.
“Gas bumi ditetapkan sebagai energi transisi. Harapannya tentu proses ini bisa lebih cepat, tapi kita juga harus realistis melihat kebutuhan energi nasional saat ini,” katanya.
Dari sisi kinerja produksi, SKK Migas optimistis dapat melampaui target produksi minyak nasional sebesar 605.000 barel per hari (bph) hingga akhir 2025. Bahkan, kontribusi dari wilayah Kalimantan dan Sulawesi diproyeksikan berada di atas rata-rata target yang ditetapkan pemerintah.
“Kami berharap dalam sisa waktu tahun ini, ritme produksi bisa terus dipertahankan untuk mencapai 605.000 barel per hari,” ujar Azhari.
Selain itu, pemerintah menargetkan produksi minyak nasional meningkat menjadi 610.000 bph. Untuk mendukung target tersebut, SKK Migas terus mendorong optimalisasi lapangan eksisting sekaligus menyiapkan langkah eksplorasi.
Di wilayah Kalimantan dan Sulawesi, rencana pengeboran 10 sumur baru telah disiapkan pada 2026, dengan fokus utama di kawasan Selat Makassar dan sekitarnya. Selain itu, terdapat sembilan sumur eksplorasi yang ditujukan untuk menemukan cadangan baru.
“Eksplorasi ini penting agar kita bisa mendapatkan sumber cadangan baru. Harapannya, temuan tersebut dapat menahan laju penurunan produksi di lapangan-lapangan yang sudah mature,” kata Azhari.
Ia menambahkan, strategi menjaga produksi migas dan mendorong transisi energi akan terus berjalan beriringan. Dengan demikian, ketahanan energi nasional tetap terjaga, sekaligus membuka jalan menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo