KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Dunia usaha di Samarinda menghadapi tekanan berlapis menjelang tutup tahun. Pemotongan anggaran pemerintah, melemahnya permintaan batu bara, hingga berkurangnya transfer dana ke daerah membuat hampir seluruh sektor usaha terdampak.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Samarinda Muhammad Ridwan menyebut, 2025 menjadi tahun yang sangat berat bagi pelaku usaha dan tantangan itu masih membayangi hingga 2026. “Hampir semua sektor kena dampak. Tahun ini memang tahun yang berat buat teman-teman pengusaha,” ujar Ridwan, Jumat (19/12).
Dia menjelaskan, pemangkasan anggaran pemerintah langsung menghantam sektor konstruksi yang selama ini menjadi penggerak ekonomi daerah. Berkurangnya proyek berdampak domino ke sektor lain, terutama perhotelan dan jasa pendukung kegiatan.
“Teman-teman konstruksi pasti kena. Kegiatan dikurangi, acara-acara juga berkurang, otomatis hotel ikut sepi,” katanya.
Tekanan juga dirasakan di sektor energi. Ridwan menyebut, harga dan permintaan batu bara yang menurun membuat aktivitas usaha melemah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga keuangan daerah melalui penurunan dana bagi hasil.
“Sektor energi batu bara juga terkena karena harganya kurang bagus dan permintaannya turun. Otomatis dana bagi hasil (DBH) kita berkurang,” jelasnya.
Menurut Ridwan, kondisi tersebut belum menunjukkan tanda-tanda membaik dalam waktu dekat. Dia memprediksi, dampak lanjutan masih akan terasa pada 2026 dan berpotensi menekan aktivitas ekonomi musiman yang biasanya menjadi harapan dunia usaha.
“Tahun depan kelihatannya dampaknya bisa lebih besar. Transaksi ekonomi, termasuk yang biasanya ramai saat mudik, bisa kembali sepi seperti tahun lalu,” ujarnya.
Minimnya kegiatan pemerintah akibat pemotongan anggaran membuat perputaran uang di masyarakat melambat. Situasi itu memperberat beban dunia usaha, karena sektor yang biasanya menjadi penopang justru melemah secara bersamaan.
“Yang biasanya bisa kita harapkan itu kegiatan infrastruktur. Tapi dengan adanya pemotongan anggaran, kegiatan jadi sepi, dan ke bawahnya juga ikut terdampak,” pungkas Ridwan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo