Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kisah Sukses Tiga Sahabat di Samarinda, Mulai Usaha dari Rombong Hingga Hadirkan Restoran yang Hype

Nasya Rahaya • Sabtu, 20 Desember 2025 | 16:15 WIB
SUKSES BERSAMA: Faris (kiri), Rangga (tengah) dan Jovin (kanan) berhasil meraih kesuksesan di usia muda lewat Hoolu.
SUKSES BERSAMA: Faris (kiri), Rangga (tengah) dan Jovin (kanan) berhasil meraih kesuksesan di usia muda lewat Hoolu.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tak banyak anak muda berusia 20-an yang berani mengambil risiko besar untuk membuka usaha, apalagi di masa pandemi 2020 lalu. Namun tiga sahabat ini justru mampu melompat jauh ketika banyak orang memilih bertahan di ujung jurang.

Bermodal tekat dan uang Rp 8 juta yang mereka kumpulkan dari kantong masing-masing, hadirlah rombong kecil untuk menjual burger bernama Hoolu. Berawal dari kenekatan itu, saat ini rombong bertransformasi menjadi restoran one stop dining 24 jam paling hype di Samarinda.

Anak muda itu adalah Muhammad Nafi Al Fariz, Muhammad Rangga Pratamadinata serta Jovin Apriela Asean Power. Tiga kepala itu punya latar belakang yang jauh dari kuliner, Fariz merupakan sarjana hukum, Rangga lulusan manajemen, dan Jovin teknik sipil. Tetapi mereka punya satu kesamaan yakni tekat dan nekat yang kuat.

Semua bermula saat pandemi. Kuliah tersendat, aktivitas sepi, mereka bertiga bingung mau melakukan apa. Fariz dan Jovin lebih dulu menjajal usaha boba botolan bernama Hoolu, diambil dari bahasa Hawai yang berarti “segar”. Nama itu melekat hingga kini, sebagai pengingat bahwa apa pun yang mereka buat harus membawa kesegaran.

Dari sanalah ide burger muncul. “Kami lihat tren burger dan hotdog lagi hype di Jakarta–Bandung. Terus kami coba burger di salah satu kedai dan merasa bisa bikin yang lebih enak,” kata Jovin.

Rombong kecil di kawasan Vorvo menjadi saksi perjalanan mereka. Bulan-bulan pertama, keuntungan tak langsung datang. “Partner sampai kehilangan HP karena tidur di rombong,” kenang Jovin.

Rangga menimpali dengan kisah awal mereka belajar membuat patty. “Kami cuci daging karena mamanya Jovin bilang dicuci dulu. Jadinya patty malah ngembang,” ujarnya sambil tertawa. Belakangan, Rangga yang punya basic memasak menyempurnakan resep mereka.

Melihat ada animo, sebulan setelah buka mereka memutuskan merekrut tiga karyawan pertama. Tapi tempat tetap jadi tantangan. Setelah delapan bulan di rombong, mereka pindah ke Jalan dr Sutomo yang berlokasi langsung di pinggir jalan utama, tempat yang saat itu bahkan terkesan terbengkalai.

Bangunan kusam, tanpa atap, dinding rusak. Tapi semua berubah dan jadi titik balik. “Dari kekacauan itu lahir Hoolu Burger,” kata Jovin. Untuk renovasi awal, mereka harus merogoh modal hingga Rp 80 juta. Bermodal dari profit sebelumnya yang tidak pernah mereka sentuh.

Saat beroperasi di dr Sutomo, jumlah karyawan meningkat menjadi sepuluh orang. Pelanggan makin ramai, terutama setelah banyak yang mengunggah story Instagram makanan mereka.

Hoolu mulai dikenal sebagai burger lokal dengan cita rasa unik dan lokal, dengan bumbu kompleks, rempah padat, bawang dominan. “Walaupun rasanya lokal ternyata bule juga suka,” kata Jovin.

Di tengah pertumbuhan itulah mereka membagi core bisnis agar roda usaha lebih terstruktur. Jovin fokus di marketing, Rangga di bagian keuangan dan Fariz mengelola operasional.

“Kami pecah core dari awal supaya lebih rapi. Masing-masing pegang bidangnya dan fokus mengembangkannya,” kata Fariz. Seiring skala bisnis meningkat, pembagian peran itu menjadi semakin kompleks. Kini, masing-masing dari mereka sudah memimpin tim sendiri lengkap dengan struktur perusahaan yang lebih profesional.

Puncaknya terjadi pada pembukaan Februari 2025 Hoolu kembali hadir dengan wajah baru. Ibarat lahir kembali, semuanya di rombak habis. Relokasi ke tempat dan bangunan baru di Jalan Angklung membuat Hoolu naik kelas. Konsep American Restaurant lengkap dengan kursi empuk, area indoor ber-AC, spot foto vinyl-turntable, hingga area outdoor.

Menu pun kian beragam selain burger, mereka juga menghadirkan soup, pasta, kwetiau, rice bowl, sup, bubur, hingga minuman Cotton Candy yang jadi signature. “Kami sudah bentuk perusahaan, fokusnya di makanan dan event sosial,” jelas Fariz. Di tempat yang baru ini, Hoolu juga sudah memiliki investor untuk pengembangan.

Disinggung mengenai pekerjaan lain selain di Hoolu, mereka mengaku saat ini memang hanya fokus di Hoolu. “Sekarang ini sudah jadi pendapatan utama bagi kami bertiga, jadi semuanya kami fokuskan ke Hoolu,” sebut Fariz.

Selain itu, secara pribadi mereka sudah bisa membeli sesuatu yang dulu hanya impian. “Kami bertiga, masing-masing akhirnya bisa beli mobil dari usaha ini,” ungkap Rangga.

Untuk Hoolu, Fariz mengaku bahwa di tempat baru ini mereka akhirnya bisa merayakan ulang tahun Hoolu sesuai dengan apa yang dicita-citakan selama ini, menghadirkan musisi Ibu Kota, Morad dan membagikan grand prize sebuah motor vespa merah.

Selain itu, karena lahir dari kreativitas mereka juga tidak mau monoton. “Setiap dua–tiga bulan kami hadirkan ambience tematik baru, sesuai dengan apa yang lagi hype saat ini,” kata Fariz.

Setelah menuai sukses, para founder kini menatap mimpi berikutnya. Dalam waktu dekat, Hoolu bersiap membuka cabang di Balikpapan. “Target kami, tiap kota minimal ada satu Hoolu. Kami ingin tumbuh seperti startup,” terang Fariz.

Jangka panjangnya lebih ambisius, membuat festival besar tahunan ala Hoolu. “Karena sekarang fokus kami bukan hanya kuliner, tapi kreativitas,” pungkas Fariz. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#usaha #kisah sukses #pandemi #sahabat #samarinda #Hoolu