KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Laju inflasi Kalimantan Timur pada triwulan III 2025 menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Bank Indonesia mencatat, inflasi Kaltim mencapai 1,77 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2025 yakni 1,62 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur Budi Widihartanto menjelaskan, kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya tekanan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Dia menyebut, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat laju inflasi 3,61 persen (yoy) dengan andil inflasi mencapai 1,08 persen (yoy). Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi cukup tinggi, yakni 9,16 persen (yoy), dengan andil sebesar 0,59 persen (yoy).
Menurut Budi, peningkatan tekanan inflasi tersebut didorong oleh sisi permintaan yang menguat, terutama di tengah berakhirnya musim panen sejumlah komoditas pangan. “Kenaikan inflasi pada periode pelaporan disebabkan oleh peningkatan demand karena ketersediaan pasokan beras yang mengalami penurunan,” jelasnya.
Selain faktor pangan, tekanan inflasi juga berasal dari kenaikan harga emas perhiasan seiring meningkatnya harga emas global. Komoditas tersebut tercatat konsisten menjadi penyumbang inflasi tahunan selama tiga bulan berturut-turut.
Faktor musiman turut memperkuat tekanan inflasi pada triwulan III. Budi menyebut, periode tersebut bertepatan dengan pembayaran biaya. “Pada triwulan III memasuki periode pembayaran pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi,” ujarnya.
Namun, Bank Indonesia mencatat kenaikan inflasi tahunan yang lebih tinggi masih tertahan deflasi pada kelompok transportasi serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga. (*)
Editor : Dwi Restu A