Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

SKK Migas Kalsul Pacu Proyek Migas 2026–2027, Perizinan dan Konstruksi Jadi Kunci

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 23 Desember 2025 | 16:55 WIB
KEJAR TARGET: Wilayah kerja di Kalimantan dan Sulawesi ditargetkan menyumbang sekitar 64 ribu barel minyak per hari dan 1.425 MMSCFD gas pada 2026.
KEJAR TARGET: Wilayah kerja di Kalimantan dan Sulawesi ditargetkan menyumbang sekitar 64 ribu barel minyak per hari dan 1.425 MMSCFD gas pada 2026.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Kalimantan dan Sulawesi menyiapkan fondasi jangka menengah agar produksi minyak dan gas bumi (migas) tetap terjaga hingga tahun-tahun berikutnya. Terlebih, capaian lifting migas mereka sepanjang 2025 berada di atas target pemerintah.

Namun memasuki 2026–2027, fokus akan bergeser pada kelancaran perizinan serta pembangunan fasilitas pendukung agar temuan cadangan baru bisa segera dikonversi menjadi produksi.

“Hingga akhir 2025, realisasi lifting gas telah mencapai 99,6 persen dari target APBN. Bahkan jika dibandingkan dengan target WP&B, lifting gas sudah melampaui target,” ungkap Koordinator Operasi SKK Migas Kalsul Damar Setiawan.

Ia menambahkan, lifting minyak juga menunjukkan kinerja kuat dengan capaian sekitar 103 persen dari target APBN dan 106 persen dari target WP&B hingga November 2025.

Menurut Damar, capaian tersebut menjadi modal penting untuk melangkah ke fase berikutnya. Namun ia tidak menampik masih adanya tantangan teknis, terutama terkait ketepatan jadwal kapal di terminal lifting.

“Dalam dua minggu terakhir, jadwal kapal menjadi perhatian. Jika kapal datang melewati Desember, pencatatan lifting bisa bergeser lintas tahun dan memengaruhi target,” jelasnya.

Memasuki 2026, pemerintah menargetkan lifting minyak nasional sebesar 610 ribu barel per hari dan gas 5.510 juta standar kaki kubik per hari. Dari angka tersebut, wilayah Kalimantan dan Sulawesi ditargetkan menyumbang sekitar 64 ribu barel minyak per hari dan 1.425 MMSCFD gas.

Untuk mengejar target itu, SKK Migas Kalsul menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari pengurangan stok minyak, optimalisasi lifting minyak dalam pipa, hingga pemaksimalan pengurasan di Terminal Senipah.

“Sejak Oktober 2025, kami juga mendapat tambahan sekitar 150 ribu barel minyak kondensat. Ini membantu menjaga level lifting, tapi tetap perlu ditopang oleh proyek-proyek baru,” kata Damar.

Proyek-proyek tersebut, lanjut dia, saat ini banyak berada pada tahap awal, khususnya perizinan dan konstruksi fasilitas. Pemboran sumur baru di Selat Makassar dan sejumlah lokasi darat di Kalimantan dan Sulawesi menjadi bagian dari rencana besar 2026.

Tahun depan, SKK Migas menargetkan pemboran 140 sumur pengembangan dan 11 sumur eksplorasi, di samping penyelesaian pekerjaan work over dan well service yang diharapkan mulai berkontribusi pada produksi 2026.

Salah satu proyek strategis adalah temuan cadangan gas besar oleh perusahaan migas asal Italia, ENI, di Lapangan Genk North. Selain itu, ENI juga merencanakan pengeboran lanjutan di Sumur Maha dan Geliga yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2028.

“Untuk lapangan baru ini, kuncinya ada di perizinan dan konstruksi. Tahapan tersebut direncanakan berlangsung pada 2026 hingga 2027,” ungkap Damar.

Ia menegaskan, percepatan perizinan dan pembangunan fasilitas produksi menjadi faktor penentu agar target on stream bisa tercapai tepat waktu. Dengan fokus pada dua tahun ke depan, SKK Migas Kalsul berharap fondasi produksi migas jangka panjang di Kalimantan dan Sulawesi semakin kuat.

“Demi menjaga keberlanjutan migas di wilayah Kalimantan dan Sulawesi, kita harapkan produksi bisa dimulai pada 2028," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#minyak dan gas bumi #Proyek Migas #produksi migas #SKK Migas Kalimantan Sulawesi