KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Walau tengah libur sekolah, aktivitas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Balikpapan Selatan, Damai Baru tetap aktif pada Selasa (23/12).
Melalui kegiatan pengajian dan pelatihan rutin, para relawan dapur diajak memperkuat keimanan sekaligus menjaga semangat kebersamaan di tengah pelaksanaan program makanan bergizi gratis (MBG).
Ketua Yayasan Alkhalifiathariz Islamis School yang membawahi SPPG Balikpapan Yuli Shinta Novianti menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda rutin dapur, khususnya selama masa libur sekolah. Meski distribusi makanan ke sekolah sementara dihentikan, aktivitas dapur tetap berjalan dengan berbagai pelatihan dan pembinaan relawan.
“Hari ini sebenarnya adalah kegiatan rutin pelatihan kami. Kebetulan momennya bertepatan dengan Hari Ibu, jadi kami isi juga dengan pengajian sebagai siraman rohani dan motivasi untuk para relawan,” kata Yuli, Rabu (23/12).
Ia menyebutkan, dapur SPPG Balikpapan sebelumnya telah menyalurkan makanan bergizi gratis kepada siswa SD 014 Balikpapan Selatan selama tiga hari. Ke depan, distribusi akan dilanjutkan ke SMK Negeri 4 Balikpapan dan sekolah-sekolah lain sesuai penetapan koordinator wilayah dan kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Alhamdulillah dapur kami sudah mulai menjalankan program ini. Awalnya memang belum boleh menangani dalam jumlah besar, jadi masih bertahap. Namun ke depan akan terus bertambah sesuai progres,” ucapnya.
Selama libur sekolah, sesuai arahan BGN, dapur tidak memaksakan distribusi apabila pihak sekolah memilih mekanisme berbeda. Namun, aktivitas relawan tetap dijaga melalui pelatihan Standar Operasional Prosedur (SOP) dapur, SOP jasa boga, hingga penguatan mental dan spiritual.
“Walaupun libur dan tidak ada distribusi omprengan, setiap hari kami tetap mengadakan pelatihan. Mulai dari SOP kitchen, jasa boga, sampai pengajian. Tujuannya supaya relawan tetap aktif, produktif, dan semangat,” jelas Yuli.
Menurutnya, relawan dapur berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga hingga masyarakat umum dengan rentang usia yang beragam. Saat ini jumlah relawan telah mencapai lebih dari 30 orang dan ditargetkan meningkat menjadi 50 orang untuk melayani sekitar 2.500 penerima manfaat di tahun depan.
“Para relawan ini sekarang sudah seperti keluarga besar. Kami bangun kebersamaan dan chemistry, karena ke depan tanggung jawabnya besar,” ucapnya.
Yuli yang juga aktif di berbagai organisasi seperti APJI, Iwapi dan Kadin Balikpapan menilai program makanan bergizi gratis memiliki dampak yang sangat luas, tidak hanya bagi anak-anak penerima manfaat, tetapi juga bagi perekonomian lokal.
“Manfaatnya luar biasa. Program ini bukan hanya soal makanan bergizi untuk anak-anak, tapi juga menggerakkan petani, UMKM, koperasi, dan memberi penghasilan bagi para relawan. Saya kadang terharu melihat kondisi mereka, ada yang untuk beli beras saja sempat kesulitan,” tuturnya.
Yuli berharap dukungan pemerintah kota dapat semakin kuat, khususnya dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok agar standar harga dari BGN dapat diterapkan dengan baik.
“Harapan saya pemerintah kota bisa lebih fokus mendukung program ini. Semoga harga bahan pokok tidak naik terus, sehingga tujuan utama program ini yaitu membekali anak-anak Indonesia menjadi generasi emas ke depan, benar-benar tercapai,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo