KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - 28 Coffee membuktikan diri bahwa mereka merupakan jaringan kedai kopi yang terus tumbuh secara progresif di pasar nasional dengan melakukan ekspansi ke Samarinda.
Berlokasi strategis di Jalan Arif Rahman Hakim, dekat Hotel Aston, kehadiran kafe ini diharapkan bisa menjadi destinasi masyarakat untuk bersantai bersama kolega atau keluarga.
Secara kumulatif, gerai di Samarinda ini merupakan cabang ke-18 yang telah dioperasikan oleh manajemen.
Sebelumnya, mereka lebih dulu populer di berbagai kota besar di Indonesia, mulai pusat pemerintahan di Jakarta, kota pelajar Jogjakarta hingga kota-kota lain seperti Surabaya, Klaten dan lahir pertama kalinya di Balikpapan.
"Kehadiran cabang terbaru ini menunjukkan optimisme manajemen terhadap potensi ekonomi dan budaya nongkrong di Samarinda yang kian berkembang pesat," kata Direktur Operasional Platinum Hotel Indonesia Soegianto.
Proses peluncuran ini disambut dengan antusiasme warga setempat. Meskipun Samarinda sudah dipadati oleh berbagai jenama kedai kopi lokal maupun nasional, 28 Coffee membawa rasa percaya diri melalui rekam jejak mereka yang solid.
Sambutan positif langsung terlihat sejak hari pertama beroperasi, di mana tingkat kunjungan menunjukkan tren yang sangat baik, bahkan sudah banyak pelanggan yang datang kembali dalam waktu singkat setelah kunjungan pertama mereka.
Menatap masa depan, ambisi 28 Coffee tidak berhenti di angka 18. Manajemen telah menyusun rencana strategis yang ambisius untuk mencapai target 50 cabang di seluruh Indonesia. Dalam waktu dekat, pihaknya akan menambah beberapa titik di Solo dan Jogjakarta. Selain itu, penguatan pasar di Kalimantan Timur tetap menjadi prioritas dengan rencana penambahan lagi di Balikpapan.
"28 Coffee di Samarinda ini adalah yang pertama, namun secara keseluruhan sudah ada 18 cabang di berbagai kota besar di Indonesia. Kita mulai ada di Balikpapan, Jogja, Surabaya, Jakarta dan Klaten. Kedepannya, 28 Coffee memiliki target hingga 50 cabang, dengan rencana penambahan tiga cabang lagi di Balikpapan serta Solo dan Jogja pada tahun 2026," jelasnya.
28 Coffee hadir di Samarinda dengan membawa nafas baru melalui konsep arsitektur yang simpel dan minimalis. Bangunan satu lantai ini didesain secara cermat untuk menciptakan suasana yang bersih, luas dan nyaman bagi siapa saja yang masuk.
Konsep utama yang diusung adalah street coffee grab and go, sebuah tema yang terinspirasi dari gaya hidup urban yang dinamis, namun tetap memberikan ruang yang mumpuni bagi mereka yang ingin menikmati waktu lebih lama di tempat.
"Target pasar utama dari konsep ini adalah generasi Z yang memiliki karakteristik mobilitas tinggi dan terbiasa bekerja atau belajar dari mana saja atau yang dikenal dengan istilah working everywhere," sebutnya.
Dengan kapasitas tempat duduk mencapai 100 orang, 28 Coffee membagi areanya menjadi ruang indoor yang tenang dan outdoor yang lebih santai. Pembagian ini memungkinkan pelanggan untuk menggunakan ruangan sesuai kebutuhan, baik untuk sekadar menikmati kopi cepat, mengerjakan tugas kuliah, bekerja secara remote, hingga melakukan pertemuan atau meeting santai.
Tamu yang berkunjung bisa mendengarkan in-house music yang telah dikurasi diputar untuk menemani suasana tanpa mengganggu ketenangan pelanggan. Selain itu, dengan skala bangunan yang ada tempat ini memang didesain secara eksklusif untuk nongkrong dan bekerja, bukan untuk acara besar seperti pesta pernikahan.
Keunikan arsitektur dan suasana inilah yang diharapkan menjadi daya saing utama di tengah menjamurnya kedai kopi di Samarinda. Meskipun konsep dasarnya seragam dengan cabang di kota lain, manajemen tetap memberikan ruang bagi sentuhan kearifan lokal di setiap daerah agar tetap relevan dengan warga setempat.
28 Coffee ingin memberikan pesan bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan sebuah identitas dan gaya hidup yang tercermin dari lingkungan tempat kopi tersebut dinikmati.
"Kita membawa konsep street coffee grab and go, jadi bisa dining juga di situ. Suasana dari tema menyeluruh mencakup menu, pelayanan, maupun experience yang berbeda. Targetnya tentu ke anak-anak muda atau gen Z yang sukanya pengen kerja atau belajar di kafe," timpalnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo