KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kaltim menghadapi tantangan besar di bidang pertanian. Salah satunya lahan yang tak sesubur tanah di Jawa karena tingkat keasaman yang tinggi.
Namun Kaltim tetap percaya mampu swasembada beras dan meraih ketahanan pangan. Terlebih mendapat dukungan penuh dari Pupuk Indonesia.
Semangat petani Kaltim tak pernah padam. Seperti Zen Alfan dan ribuan petani lainnya di Penajam Paser Utara (PPU) yang terus berusaha menjadikan daerahnya sebagai lumbung padi masa depan untuk Kaltim dan Ibu Kota Nusantara (IKN). 18 tahun menjalani profesi petani, Zen Alfan masih melihat masa depan yang potensial dari pertanian.
Dia bertahan melewati masa tanam setiap musim. Tanpa tergoda sedikit pun tawaran alih fungsi lahan, seperti kelapa sawit yang lebih menjanjikan cuan. Zen merupakan petani milenial di Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara. Salah satu lumbung padi Kalimantan Timur. Tumbuh dan besar di sana, Zen paham karakteristik kesuburan lahan.
Dia bercerita kunci keberhasilan berada pada pemberian pupuk selama proses tanam. Terutama jenis Urea dan Phonska. “Saya pernah coba pakai semi organik dari kompos dan lainnya, tapi tanah di sini tidak cocok,” ungkapnya.
Zein, sapaan akrabnya menjelaskan, pupuk organik memiliki fokus kandungan Nitrogen (N) lebih tinggi. Itu tidak cocok dengan kondisi lahan di Babulu Darat. Sehingga petani mencoba Urea dan Phonska. Dan hasilnya luar biasa. “Kandungan tanah kita di sini dengan tanah di Jawa berbeda,” tuturnya. Setidaknya butuh 6-10 karung pupuk Urea dan Phonska per hektare setiap kali masa tanam.
“Itu pupuk kalau tidak subsidi sulit terjangkau,” ucapnya. Contohnya pupuk nonsubsidi di Kaltim seharga Rp 400.000 per karung. Namun dengan pupuk subsidi, petani setara mendapat empat karung pupuk urea. Beban semakin berkurang dengan penurunan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi. Tepatnya melalui keputusan menteri pertanian yang berlaku pada 22 Oktober 2025.
“Urea sekarang Rp 90.000 dari sebelumnya Rp 112.500 dan Phonska dari Rp 115.000 menjadi Rp 92.000,” ujarnya. Kini pupuk Urea memiliki HET Rp 1.800 per kilogram dan Phonska Rp 1.840 per kilogram. Keputusan ini disambut baik oleh petani yang bisa semakin menekan biaya produksi. Apalagi jika harus menggunakan pupuk non subsidi, kantong petani sangat terkuras.
Seperti pupuk merk Nitrea dan Phonska Plus, sekarang masing-masing mencapai harga lebih Rp 400.000 per karung. Ukuran 50 kilogram. “Kalau tanpa subsidi, keuntungan petani tipis sekali,” ungkapnya.
Dengan bantuan pupuk subsidi, petani bisa menghemat biaya hingga Rp 300.000 per karung. Zein menggarap lahan seluas 4 hektare. Artinya jumlah kebutuhan pupuk subsidi semakin besar. “Total butuh 30 karung pupuk untuk satu tahun,” imbuhnya. Dia bisa menghemat biaya lebih dari Rp 9 juta per hektare. Walhasil biaya produksi tinggal Rp 10-15 juta per hektare.
“Itu sudah kategori istimewa, perawatan pupuknya super atau terbaik,” ucapnya. Tak hanya Zein, bantuan pupuk subsidi sangat terasa untuk kebutuhan seluruh anggota kelompok tani.
Zein merupakan manajer brigade pangan sekaligus ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki. Dia memimpin 90 petani dengan garapan lahan seluas 130 hektare di Desa Babulu Darat. Kalau sesuai luasan lahan yang dikelola Kelompok Tani, asumsi kebutuhan pupuk Phonska sekitar 2.080 karung per tahun. Sementara pupuk Urea 2.340 karung per tahun. Total mencapai 4.420 karung per tahun.
Dengan bantuan pupuk subsidi, Kelompok Tani Sumber Rejeki diasumsikan bisa menghemat biaya hingga total Rp 1,3 miliar untuk operasional. Selisih harga subsidi dan non subsidi sebanyak ini sangat membantu.
“Bagaimanapun beban juga cukup besar dari biaya pupuk,” sebutnya. Dia bersyukur pemerintah melalui Pupuk Indonesia Holding Company selalu menjamin ketersediaan pupuk subsidi.
Menurutnya selama ini akses mendapat pupuk subsidi sangat mudah. Terlebih Kelompok Tani Sumber Rejeki sudah terdaftar dalam Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Jika sudah mendaftar, kelompok tani akan terpantau dalam sistem informasi manajemen penyuluh pertanian (Simluhtan). Sehingga data kebutuhan pupuk subsidi setiap kelompok tani muncul dalam e-RDKK.
“Distribusi pupuk ke petani semua aman selama terdata di RDKK, tidak akan kesulitan,” sebutnya. Seperti di Kalimantan Timur, petani bisa mengandalkan suplai pupuk subsidi dari Pupuk Kaltim.
Tak sekadar mendapat jaminan kuota pupuk subsidi. Petani juga dimudahkan ketika pembelian. Zein bercerita cukup menggunakan KTP saat datang ke kios. Ini efek digitalisasi yang sudah dilakukan Pupuk Indonesia.
Teknisnya tinggal buka data di aplikasi, nanti terlihat berapa kuota pupuk subsidi. “Kalau diambil berapa, sisa kuota berapa. Jadi masukkan nama dan NIK saja langsung muncul,” bebernya.
Pria berusia 41 tahun ini tidak pernah mengalami masalah untuk menebus pupuk subsidi. Bahkan dia mengakui lebih baik pembelian satu pintu. Dalam artian, petani menyerahkan ke kelompok tani agar kolektif.
“Tapi ambil per orangan juga tidak masalah,” imbuhnya. Sekarang dengan inovasi digitalisasi, distribusi pupuk subsidi sudah lebih tertata. Kalau dulu tidak tertib dalam pencatatan.
Saat ini dengan e-RDKK setiap petani mendapat jatah sesuai kebutuhan. Zein mampu menghasilkan gabah minimal 3,5 ton per hektare. Total untuk empat hektare, produksi sekitar 14 ton gabah setiap kali panen.
“Tapi bisa lebih juga dari itu. Saya bisa capai 6 ton gabah per hektare saat masa puncaknya,” ungkapnya. Meski saat ini, Kelompok Tani Sumber Rejeki Babulu Darat baru dua kali panen per tahun.
Zein sendiri bergabung dan menjadi ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki pada 2020. Dia merupakan petani dari generasi milenial sekaligus yang termuda di kelompok tani tersebut. Mulai belajar bertani sejak 2007 dari orang tua juga yang menjalani pekerjaan tersebut.
Profesi ini telaten dijalani karena seperti panggilan jiwa. “Dulu sempat kerja di tambang, saya sempatkan menanam padi,” ucapnya.
Namun tak bertahan lama, akhirnya Zein memilih kembali ke sawah sepenuhnya menjadi petani. “Rata-rata di sini hanya penyewa lahan. Bukan pemilik lahan yang menggarap lahan,” sebutnya. Kelompok Tani Sumber Rejeki sebagian besar sudah berumur alias lanjut usia.
Zein termasuk penerus dan berharap generasi muda turun ke sawah. Apalagi dengan program ketahanan pangan diusung pemerintah pusat.
“Adanya program ini membuat semangat petani berbeda,” tuturnya. Dia melihat, petani merasa ada bantuan pupuk subsidi hingga jaminan harga serap gabah kering tinggi. Sehingga kenaikan produksi terasa mulai meningkat.
Terlihat dari banyak lahan yang mati, kini sudah aktif lagi. Dia berharap generasi muda mulai menggarap sawah. Itu membantu Kaltim mewujudkan program ketahanan pangan khususnya swasembada beras. Kisah Zein mewakili suara ribuan petani yang percaya pada industri pertanian di Kaltim punya masa depan. Mereka berkontribusi dalam program ketahanan pangan yang terus dikejar maksimal. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo