Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Akses Pupuk Subsidi Makin Mudah, Bukti Keberpihakan pada Petani

Dina Angelina • Selasa, 30 Desember 2025 | 20:02 WIB
BERSEMANGAT: Zen Alfan mengelola lahan sawah seluas 4 hektare. Kini dia menunggu masa panen yang diprediksi berlangsung pada akhir Februari 2026.
BERSEMANGAT: Zen Alfan mengelola lahan sawah seluas 4 hektare. Kini dia menunggu masa panen yang diprediksi berlangsung pada akhir Februari 2026.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kaltim menunjukkan keseriusan untuk swasembada beras. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menegaskan bahwa Penajam Paser Utara (PPU) sebagai salah satu lumbung padi di Bumi Etam.

Itu disampaikan saat panen raya September 2025. PPU kini memiliki luas baku sawah (LBS) sebesar 7.508 hektare. Potensi terbesar LBS yaitu Kecamatan Babulu dengan luas 5.800 hektare.

Sisanya ada di Kecamatan Waru, Kecamatan Penajam dan Kecamatan Sepaku. Semua kecamatan memiliki potensi lahan pangan khususnya sawah. Terbaru Menteri Pertanian Amran Sulaiman membentuk 29 Brigade Pangan di PPU. Luas lahan yang dikelola 5.986 hektare.

“Produksi gabah PPU sudah mencapai 47.500 ton atau setara dengan 27.800 ton beras,” kata Kepala Dinas Pertanian PPU Andi Trasodiharto kepada Kaltim Post.

Lebih lanjut indeks pertanaman (IP) PPU awalnya 1,6. Teranyar PPU telah menyentuh IP 200 hingga lebih. Targetnya konsisten mencapai IP 300 untuk peningkatan produktivitas. Pihaknya punya pekerjaan rumah (PR) menggaet petani milenial.

“Jadi petani bukan pekerjaan murah. Tapi pekerjaan yang bergengsi,” tuturnya. Mengingat kondisi petani sudah diperhatikan pemerintah. Baik pupuk hingga solar terbantu dengan subsidi. Menurutnya petani merasakan kehadiran pemerintah. “Kalau dulu sawah tidak terkelola dengan baik, sekarang kondisi berubah,” tuturnya. Seperti distribusi pupuk subsidi sudah menggunakan e-RDKK.

Data kebutuhan pupuk ini dikawal oleh penyuluh dan gabungan kelompok tani. Setiap desa akan direkap menjadi kebutuhan kecamatan. “Lalu direkap lagi menjadi kebutuhan kabupaten,” imbuhnya. Selanjutnya data disampaikan ke Pupuk Indonesia. “Mereka bekerja sama dengan kios dalam distribusi pupuk subsidi,” ujarnya.

Dia bersyukur ada kebijakan penurunan harga pupuk subsidi sampai 20 persen. Itu mendukung keberlangsungan petani karena biaya produksi petani semakin lebih murah. Serta serapan harga gabah kering Rp 6.500 per kilogram. “Maka keberpihakan kepada petani luar biasa,” tegasnya.

Dia yakin produksi beras tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat PPU. Melainkan surplus antara jumlah penduduk dan produksi gabah. Nanti distribusi beras bisa dinikmati kabupaten/kota sekitar.

Pihaknya mengejar target setinggi-tingginya hingga 53.000 ton gabah. PPU menyambut kemudahan yang diberikan kepada petani. “Sebagai motivasi dan melecut semangat petani meningkatkan produksi,” tuturnya.

Sebagai informasi, PPU termasuk tiga besar daerah tertinggi penyumbang produksi beras. Data BPS Kaltim, PPU mengalami peningkatan produksi beras dari 2023 sebesar 26.233 ton menjadi 27.997 ton pada 2024.

Saat ini luas panen PPU sebesar 12.532 hektare, produktivitas 35,21 ton per hektare, dan produksi padi gabah kering giling (GKG) 44.123 ton pada 2023. Dari data BPS yang dihasilkan dari Survei Kerangka Sampel Area.

Sementara data dari Dinas Pertanian PPU, luas tanam padi sawah 11.699,53 hektare. Sedangkan padi ladang (padi gogo) 20 hektare pada 2023. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#penajam paser utara #swasembada beras #pupuk indonesia #pupuk subsidi #lumbung padi