KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kaltim meraih peringkat kedua Indeks Ketahanan Pangan Nasional 2025. Bahkan dengan skor 80,82 atau kategori sangat tahan.
Ini penghargaan prestisius karena kali pertama Kaltim berhasil mencapai level tersebut. Target Pemprov Kaltim sejalan dengan salah satu Asta Cita Presiden Prabowo. Yakni ketahanan pangan dan ketahanan energi. Beragam upaya mendukung program ketahanan pangan.
Tercatat peningkatan produksi beras dalam dua tahun terakhir. Pemprov Kaltim mencatat produksi beras sepanjang 2024 sebesar 145.209 ton. Ini naik 9,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 132.022 ton. Sedangkan produksi beras Kaltim tahun ini sebesar 158,5 ribu ton.
“Peningkatan produksi beras menunjukkan kerja keras petani dan pemerintah,” ujar Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji.
Angka ini mencatat peningkatan sebesar 13,35 ribu ton atau naik sekitar 9,19 persen dibanding Tahun 2024. Selain itu, potensi luas panen padi tahun ini meningkat mencapai 66.000 hektare atau naik 5,74 persen. Dia mengakui tantangan Kaltim tentu cukup besar. Mulai dari keterbatasan lahan subur, produktivitas pertanian belum optimal, dan ketergantungan pasokan beras dari luar daerah.
Pemprov Kaltim melakukan sejumlah rekayasa lahan. Mulai penambahan kapur dan dolomit, hingga penerapan metode low external input sustainable agriculture (LEISA). Seno menjelaskan, produktivitas padi telah meningkat. Sebelumnya hanya 3-4 ton per hektare. Kini berhasil produksi 6-7 ton per hektare dalam sekali panen. Apalagi jika minimal dua kali hingga tiga kali panen per tahun.
“Dulu hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan beras, kini setelah berupaya produksi sudah mencapai 60 persen," jelasnya. Kaltim menargetkan bisa swasembada beras pada 2026. Tentu dengan sejumlah strategi. Seperti perluasan lahan pertanian dari 33 ribu hektare, saat ini menjadi 46-50 ribu hektare. Baik cetak sawah baru dan optimalisasi lahan.
Produksi beras November 2025 tercatat mencapai 160 ribu ton. “Kita hanya perlu menambah sedikit lagi untuk mencapai 100 persen kebutuhan beras Kaltim, bahkan target mencapai surplus,” tambahnya.
Menurutnya jika 46 ribu hektare lahan mampu eksisting dan produksi massif. Lalu perluasan lahan dan rekayasa lainnya. Pemprov Kaltim optimis bisa swasembada beras pada November 2026. Salah satu yang berperan penting dari kemudahan petani mengakses pupuk subsidi. “Kami punya Pupuk Kaltim. Kami minta subsidi pupuk oleh Pupuk Indonesia diutamakan untuk Kaltim dulu,” bebernya.
Sehingga mendorong produktivitas petani Kaltim. “Alhamdulillah disetujui menteri dan memanggil dirut Pupuk Kaltim untuk kebutuhan pupuk,” sebutnya. Itu membuat Pemprov Kaltim semakin percaya diri meraih gelar swasembada beras. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo