KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tekanan inflasi Kalimantan Timur pada triwulan III 2025 masih didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Bank Indonesia mencatat, dinamika pasokan pangan hingga lonjakan harga emas dunia menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur Budi Widihartanto menyampaikan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 3,61 persen (year-on-year/yoy) dengan andil 1,08 persen (yoy) pada triwulan III 2025, menjadi kontributor inflasi terbesar di Kaltim.
Kontributor inflasi terbesar kedua berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan laju inflasi 9,16 persen (yoy) dan andil 0,59 persen (yoy). Realisasi ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 8,24 persen (yoy).
"Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami deflasi lebih dalam sebesar -1,36 persen (yoy) dengan andil -0,18 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar -0,27 persen (yoy)," paparnya.
Berdasarkan komoditas, emas perhiasan dan beras konsisten menjadi penyumbang inflasi tahunan sepanjang triwulan III 2025. Ketidakpastian ekonomi global mendorong kenaikan harga emas dunia yang berdampak pada meningkatnya harga emas perhiasan domestik.
Komoditas beras juga terus menekan inflasi seiring berakhirnya masa panen raya, kenaikan harga gabah petani, kebutuhan cadangan beras pemerintah, serta inefisiensi distribusi. Karakteristik Kaltim sebagai daerah net konsumen membuat harga beras di pasar semakin sensitif terhadap lonjakan harga dari daerah sentra.
Di sisi lain, kelompok transportasi justru mengalami deflasi. Penurunan tekanan harga angkutan udara akibat kebijakan diskon pada Juni-Juli 2025 serta penyesuaian harga BBM non-subsidi pada Agustus-September 2025 menjadi faktor utama penahan inflasi pada periode laporan. (*)
Editor : Duito Susanto