KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pandemi Covid-19 menjadi titik balik hidup Evi Kurnia Sari. Perempuan berlatar belakang farmasi itu memilih meninggalkan dunia kesehatan dan beralih penuh ke usaha kuliner demi bertahan di tengah krisis ekonomi keluarga.
Sebelum menetap di Balikpapan, Evi sempat bekerja cukup lama di Rumah Sakit Haji Darjat (RSHD) Samarinda. Namun, hobi membuat kue yang awalnya hanya sambilan perlahan berubah menjadi jalan hidup.
Keputusan resign dia ambil menjelang pandemi, sebelum akhirnya mengikuti sang suami pulang ke Balikpapan pada awal 2020.
“Begitu masuk pandemi, suami saya terkena PHK. Jadi ikut pulang ke Balikpapan, suami saya orang sana. Di situ saya berpikir bagaimana caranya tetap bertahan hidup dengan keahlian yang saya punya,” kata Evi.
Awal merintis usaha di Balikpapan bukan perkara mudah. Evi mengaku tidak memiliki jaringan pertemanan dan memulai dari nol. Dia kemudian memberanikan diri mendaftar bantuan UMKM pemerintah saat pandemi dan memperoleh modal Rp2,4 juta yang menjadi fondasi awal usahanya.
“Bantuan itu jadi modal pertama saya. Dari situ saya pelan-pelan ikut pelatihan dinas, mengurus legalitas, sampai dibantu sertifikasi halal,” ujarnya.
Selama masa pandemi, Evi justru menemukan peluang di tengah keterbatasan. Dia melayani pesanan masakan rumahan dan jajanan pasar untuk keluarga yang menjalani isolasi mandiri. Diakui jika kemampuannya yang lihai di dapur karena autodidak.
“Mereka pesan, lalu saya antar dan gantungkan di pagar rumah. Justru di situ saya bisa bertahan hampir dua tahun,” ungkap perempuan kelahiran 1980 itu.
Setelah pandemi mereda, Evi terus beradaptasi. Mulai dari menjual gado-gado di depan rumah hingga menerima pesanan nasi kotak dan tumpeng. “Apa pun peluangnya, saya coba,” ucapnya.
Kini, Evi tak hanya fokus pada usahanya sendiri. Dia juga aktif membantu operasional Galeri UMKM Etam di Balikpapan sejak diluncurkan Agustus lalu. Keputusan itu sekaligus membuka lapangan kerja bagi empat orang yang membantunya di produksi.
Dia mengembangkan usaha kuliner dengan nama Maknyak Aravio. Produk unggulannya adalah sale krispi. Tersebar di berbagai outlet oleh-oleh Balikpapan. Serta bolen pisang yang merupakan produk pertamanya sejak di Samarinda.
“Harapan saya ke depan, usaha ini bisa memberdayakan tetangga dan warga sekitar. Entah lewat katering atau usaha lain, yang penting bisa berbagi rezeki,” tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo