Hingga akhir Desember, defisit APBN tercatat Rp 695,1 triliun atau setara 2,92 persen dari produk domestik bruto.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding defisit 2024 yang berada di kisaran 2,3 persen PDB. Menurut Purbaya, pelebaran defisit dari target awal 2,53 persen merupakan pilihan kebijakan, bukan kegagalan pengelolaan fiskal.
“Kalau mau, saya bisa buat defisit nol. Tapi konsekuensinya ekonomi morat-marit,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
Ia menjelaskan, pemerintah menjalankan kebijakan fiskal countercyclical untuk menahan tekanan ekonomi sepanjang 2025. Belanja negara tetap didorong agar aktivitas ekonomi tidak terkontraksi di tengah ketidakpastian global dan tekanan domestik.
Meski defisit meningkat, Purbaya menegaskan posisi fiskal Indonesia masih terjaga. Defisit, kata dia, tetap berada di bawah ambang batas konstitusional 3 persen PDB sebagaimana diatur undang-undang.
Kementerian Keuangan juga mengklaim pengelolaan utang dan pembiayaan dilakukan secara terukur untuk memastikan keberlanjutan fiskal tetap terjaga di tahun-tahun mendatang.
Editor : Uways Alqadrie