Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Bisnis Properti Tancap Gas di 2026, Rumah Subsidi Tetap Favorit, Komersial Mulai Didorong

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 10 Januari 2026 | 16:31 WIB
MURAH: Rumah subsidi masih menjadi segmen yang paling diminati masyarakat.
MURAH: Rumah subsidi masih menjadi segmen yang paling diminati masyarakat.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Optimisme pelaku usaha Kaltim di sektor properti menguat memasuki 2026. Mereka meyakini tren pertumbuhan yang mulai terlihat sejak 2025 akan berlanjut.

Bahkan diyakini bisa meningkat lebih signifikan tahun ini, seiring dukungan pembiayaan pemerintah dan perbankan. Serta munculnya pengembang-pengembang baru di daerah.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Kaltim Wahyudi menjelaskan, peningkatan itu tidak muncul tiba-tiba. Pada 2025, tanda-tanda kebangkitan sudah terlihat setelah adanya keputusan penambahan pembiayaan dari Kementerian Keuangan kepada bank-bank Himbara.

Dampaknya mulai terasa pada tahap pembangunan, yang akan semakin masif pada 2026. “Di 2026 ini akan lebih meningkat dari tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Selain faktor pembiayaan, geliat properti juga ditopang oleh bertambahnya jumlah pengembang baru. Tidak hanya di Samarinda, pengembang mulai bermunculan di sejumlah kabupaten dan kota di Kaltim.

Bahkan, sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Samarinda menyatakan minat berkolaborasi mengembangkan perumahan. “Mereka berminat untuk mengembangkan perumahan di Samarinda dan itu sangat kami apresiasi,” kata Wahyudi.

Menurutnya, sektor properti memiliki efek domino yang luas karena berkaitan dengan ratusan sektor turunan. Wahyudi menyebut, sedikitnya ada 176 bidang usaha yang bergerak ketika satu kawasan perumahan dibangun. Karena itu, REI Kaltim optimistis properti akan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah pada 2026.

Dari sisi pasar, rumah subsidi masih menjadi segmen paling diminati masyarakat. Namun, dia tidak ingin pertumbuhan hanya bertumpu pada satu segmen. Pihaknya akan mendorong peningkatan rumah komersial agar daya beli masyarakat bisa terus naik.

“Kami bukan hanya rumah subsidi, tapi juga mendorong rumah komersial. Pertumbuhan ekonomi Kaltim juga cukup bagus, kadang lebih tinggi dari nasional. Jadi berupaya mendorong pertumbuhan rumah komersial juga,” ujarnya.

Upaya mendorong rumah komersial dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari kerja sama dengan perbankan hingga penawaran cicilan yang lebih ringan. Salah satunya melalui dorongan agar suku bunga KPR bisa ditekan hingga satu digit.

Menurut Wahyudi, bunga rendah sangat membantu konsumen dengan penghasilan menengah untuk beralih ke rumah komersial.

Dia menyebut, konsumen dengan penghasilan di atas Rp11 juta hingga Rp13 juta per bulan sudah sangat memungkinkan mengambil rumah komersial. “Dengan bunga satu digit, Rp13 juta pun sudah bisa ambil rumah komersial. Tidak harus gaji Rp15 juta atau Rp20 juta,” katanya.

Meski demikian, Wahyudi menegaskan kualitas tetap menjadi perhatian utama, baik untuk rumah subsidi maupun komersial. Dia mengimbau anggota REI agar tetap menjaga mutu bangunan. “Rumah subsidi pun kami harapkan kualitasnya tetap terjaga,” ujarnya.

Dari sisi makro, kondisi ekonomi Kaltim dinilai relatif stabil. Meski ada pemotongan anggaran pemerintah di sejumlah daerah, Wahyudi menilai dampaknya tidak terlalu besar. Apalagi, pertumbuhan UMKM yang didukung perbankan turut memperkuat daya beli masyarakat.

Dengan berbagai faktor tersebut, pihaknya menargetkan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan hunian di daerah, termasuk mendukung target pembangunan 100 ribu rumah. “Kami bukan berjalan, tapi berlari. Pada 2026 ini tancap gas,” tegas Wahyudi. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#pengembang #perumahan #properti #pelaku usaha #kaltim #kalimantan timur #rumah